Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring

Jumat 24-07-2026,21:53 WIB
Oleh: Jokhanan Kristiyono*

Menembus Beban Digital

AI sejatinya adalah alat pembebas jika digunakan dengan kedaulatan berpikir. Namun, ia akan menjadi penjara tak kasatmata jika diterima tanpa daya kritis. 

Generasi digital Indonesia tidak akan lepas dari jerat kontrang-kantring selama mereka masih membiarkan kompas hidupnya dikendalikan algoritma dan kalkulasi kecerdasan buatan.

Kecepatan teknologi yang melompat jauh itu pada akhirnya menyisakan kelelahan yang luar biasa di dalam ruang batin anak muda. Ketika mesin memaksa kita berpikir secepat pemrosesan data, mental manusia yang memikulnya mulai retak. 

Kebingungan mekanis di era AI ini tak lagi sekadar persoalan teknis atau gagap teknologi. Ia telah merembet menjadi beban psikologis yang berat, melahirkan kecemasan eksistensial, dan mengikis resiliensi mental generasi muda kita.

AI sejatinya adalah alat pembebas jika digunakan dengan kedaulatan berpikir. Namun, ia akan menjadi penjara tak kasatmata jika kompas hidup anak muda sepenuhnya diserahkan pada kalkulasi algoritma. 

Kecepatan mesin yang melompat jauh itu pada akhirnya menuntut adaptasi kognitif yang luar biasa lelah. Ketika ritme hidup dipaksa menyamai kecepatan pemrosesan data, kebisingan digital tersebut perlahan merembet masuk, mengikis ketenangan ruang batin, dan menjebak jiwa muda dalam labirin kecemasan eksistensial.

Lantas, bagaimana lanskap mental generasi kita ketika dipaksa terus berlari bersama mesin? Kita perlu membedah lebih dalam beban psikologis di balik kegelisahan generasi yang sedang kontrang-kantring ini. (*) 

*) Jokhanan Kristiyono adalah dosen/akademisi media komunikasi dan teknologi, Stikosa AWS.

 

Kategori :