Piala Dunia sebagai Kohesi Sosial

Jumat 24-07-2026,22:01 WIB
Oleh: Purnawan Basundoro*

PIALA DUNIA 2026 telah berakhir. Spanyol telah memenangkan pertandingan puncak sehingga pulang membawa piala yang didesain seorang seniman asal Italia Silvio Gazzaniga. Selama satu bulan warga dunia dibuat terkesima dengan pertandingan yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. 

Alhamdulillah, tidak ada berita yang mengarah kepada hal-hal negatif. Di tengah kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja, seluruh pertandingan telah menyatukan warga dunia dalam kesatuan emosi yang sama. 

Tanpa disadari, Piala Dunia telah mengubah pertandingan di lapangan rumput menjadi kohesi sosial.

Sebelum pertandingan dimulai, jutaan orang mengenakan kaus dengan warna berbeda. Ada yang mendukung Brasil, Argentina, Jerman, Prancis, Inggris, Jepang, Spanyol, atau Maroko. 

Mereka datang dari latar belakang agama, bahasa, kelas sosial, bahkan negara yang berbeda. Namun, ketika peluit wasit dibunyikan, semua orang memasuki ruang sosial yang sama: ruang yang dipenuhi emosi, harapan, kegembiraan, dan kekecewaan. 

BACA JUGA:Ketika Piala Dunia Menjadi Investasi Nasional

BACA JUGA:Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia

Itulah kekuatan terbesar Piala Dunia. Ia bukan sekadar kompetisi sepak bola, melainkan sebuah fenomena budaya yang mampu menyatukan manusia. Dalam perspektif sosiologi, Piala Dunia merupakan salah satu bentuk kohesi sosial yang paling nyata pada era globalisasi (Giulianotti, 1999).

Kohesi sosial merupakan kondisi ketika anggota masyarakat memiliki rasa saling percaya, solidaritas, dan komitmen untuk hidup bersama meski memiliki banyak perbedaan. 

Durkheim (1984) menjelaskan bahwa masyarakat dapat bertahan karena adanya ikatan moral yang menyatukan individu-individu di dalamnya. Ikatan tersebut tidak selalu dibangun melalui hubungan keluarga atau institusi formal, tetapi juga melalui pengalaman kolektif yang menciptakan rasa memiliki terhadap komunitas. 

Dalam konteks ini, Piala Dunia menjadi salah satu peristiwa global yang menghasilkan pengalaman bersama (shared experience) bagi masyarakat dunia.

BACA JUGA:Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme

BACA JUGA:Psikososialnya Piala Dunia: Dari Gegap Gempita Penonton ke Polarisasi Pendukung Tim

Setiap empat tahun sekali, Piala Dunia mengubah ritme kehidupan masyarakat. Jadwal pertandingan menjadi bahan pembicaraan di kantor, sekolah, kampus, warung kopi, hingga media sosial. 

Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat memulai percakapan hanya dengan satu pertanyaan sederhana: ”Malam ini mendukung siapa?” Percakapan tersebut tampak ringan, tetapi sebenarnya membuka ruang komunikasi yang mempertemukan banyak individu dalam suasana yang egaliter. 

Kategori :