TULISAN Gilang Gusti Aji tentang generasi digital yang menghadapi situasi ”kontrang-kantring” (Harian Disway, Jumat, 24 Juli 2026) memberikan refleksi menarik tentang perubahan kehidupan masyarakat di era teknologi.
Istilah dalam bahasa Jawa tersebut menggambarkan seseorang yang berjalan tanpa arah yang jelas, berada di tengah banyak pilihan, tetapi mengalami kesulitan untuk menentukan tujuan.
Namun, istilah kontrang-kantring sebaiknya tidak buru-buru dilekatkan sebagai kelemahan generasi muda. Jangan sampai kita melihat generasi Z dan generasi digital hanya dari sisi kecemasan, ketergantungan pada gawai, atau perubahan pola interaksi sosial. Sebab, di balik tantangan tersebut, terdapat potensi besar yang tidak boleh diabaikan.
Generasi digital adalah generasi yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap teknologi, kreatif dalam menciptakan inovasi, cepat membangun jejaring, dan berani menyuarakan gagasan.
BACA JUGA:Generasi Digital yang Kontrang-kantring
BACA JUGA:Ketika Manusia Menjadi Robot: Meneruskan Pemikiran Suko Widodo tentang Generasi Kontrang-kantring
Mereka tumbuh dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya (senior). Mereka tidak kekurangan informasi, tetapi sering kali menghadapi persoalan lain: bagaimana memilih informasi, memahami makna, dan menentukan arah di tengah perubahan yang sangat cepat.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya ”mengapa generasi muda terlihat kontrang-kantring?”, melainkan juga ”siapa yang hadir untuk membantu mereka menemukan arah?”
Pertanyaan tersebut membawa kita pada tanggung jawab bersama: negara, lembaga pendidikan, kampus, organisasi kepemudaan, dan masyarakat harus membangun ruang perjumpaan baru agar generasi digital tidak berjalan sendiri.
Generasi Digital: Potensi Besar yang Membutuhkan Pengalaman
Salah satu kekeliruan dalam melihat generasi muda saat ini adalah menganggap mereka sebagai kelompok yang harus selalu diarahkan. Padahal, mereka bukan generasi tanpa kemampuan. Mereka memiliki modal sosial yang besar.
BACA JUGA:Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring
BACA JUGA:Berserawung agar Tak Kontrang-kantring
Generasi digital mampu belajar secara mandiri melalui berbagai sumber pengetahuan. Mereka dapat membangun komunitas tanpa batas wilayah. Mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan karya, usaha, gerakan sosial, bahkan perubahan budaya.
Namun, kemampuan digital tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan sosial. Teknologi dapat memberikan informasi dalam hitungan detik, tetapi pengalaman hidup tidak dapat diperoleh secara instan.