Kontrang-kantring di Era Digital: Siapa Yang Menuntun Generasi Muda?

Sabtu 25-07-2026,09:33 WIB
Oleh: Andri Suryandari*

Sayang, pendidikan tinggi terkadang masih terlalu berfokus pada capaian akademik dan kompetensi teknis. Padahal, dunia yang makin kompleks membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi, dan berkolaborasi.

Kampus perlu memperluas ruang serawung melalui berbagai bentuk: proyek sosial, pengabdian masyarakat, forum dialog lintas generasi, kolaborasi dengan komunitas, hingga keterlibatan mahasiswa dalam persoalan publik. 

Mahasiswa bukan hanya objek pendidikan, melainkan juga mitra dalam menciptakan perubahan.

Hal yang sama berlaku bagi organisasi kepemudaan. Organisasi kepemudaan harus melakukan transformasi agar tetap relevan bagi generasi digital. Generasi muda saat ini tidak selalu tertarik pada organisasi dengan struktur formal yang kaku. 

Mereka lebih tertarik pada ruang yang memberi kesempatan berkontribusi, berkreasi, dan menghasilkan dampak. Organisasi kepemudaan harus menjadi ruang belajar kepemimpinan, bukan sekadar ruang kegiatan rutin.

Menuntun Generasi Muda dengan Percakapan, Bukan Sekadar Arahan

Pada akhirnya, persoalan generasi digital bukanlah persoalan anak muda semata. Itu adalah persoalan ekosistem sosial. Generasi muda memiliki energi perubahan, tetapi membutuhkan pengalaman sebagai kompas. Mereka memiliki kemampuan teknologi, tetapi membutuhkan nilai sebagai arah.

Karena itu, pertanyaan ”siapa yang menuntun generasi muda?” tidak boleh dijawab dengan menunjuk satu pihak. Negara memiliki tanggung jawab menciptakan kebijakan dan ruang partisipasi. 

Kampus memiliki tanggung jawab membangun pengetahuan dan pengalaman. Organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab menciptakan komunitas dan kepemimpinan.

Sementara itu, masyarakat memiliki tanggung jawab menjaga ruang dialog antargenerasi. Sebab, generasi muda tidak kehilangan arah karena mereka lemah. Bisa jadi mereka hanya membutuhkan lebih banyak ruang untuk bertemu, berdialog, dan belajar dari pengalaman.

Jika ”kontrang-kantring” menggambarkan manusia yang berjalan dalam kebingungan di tengah derasnya perubahan, jawabannya bukan menutup mereka dari perubahan. Jawabannya adalah menghadirkan lebih banyak ruang serawung.

Sebab, masa depan tidak dibangun hanya oleh generasi yang menguasai teknologi, tetapi juga oleh generasi yang mampu menghubungkan teknologi dengan nilai, informasi dengan kebijaksanaan, serta kebebasan digital dengan tanggung jawab sosial. 

Tugas generasi sebelumnya (senior)  tidak menunjukkan jalan yang harus mereka ikuti, tetapi berjalan bersama agar mereka mampu menemukan jalannya sendiri. (*)

*) Andri Suryandari  adalah pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan pengurus Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur.

 

Kategori :