Remaster Dragon Age Trilogy Sulit Terwujud, Mantan Produser BioWare Ungkap Kendala Besarnya

Kamis 30-07-2026,11:00 WIB
Reporter : Dave Yehosua
Editor : Guruh Dimas Nugraha

HARIAN DISWAY - Banyak penggemar berharap dapat melihat versi remaster trilogi Dragon Age. Tapi harapan itu tampaknya masih harus dipendam.

Mark Darrah, mantan produser sekaligus kreator seri Dragon Age, menyebut ada berbagai kendala teknis dan internal di BioWare.

Sehingga peluang menghadirkan remaster untuk tiga game pertama sangat kecil. Dilansir FRVR, Darrah menyebut bahwa BioWare sebenarnya pernah memiliki gagasan.

Mereka ingin menghadirkan paket remaster bertajuk Dragon Age: Champion's Edition. Mirip dengan Mass Effect Legendary Edition yang dirilis pada 2021.

BACA JUGA:Warhorse Studios Resmi Garap Game RPG The Lord of the Rings dan Ekspansi Baru Kingdom Come

BACA JUGA:Perjalanan Dungeons & Dragons (DnD), Game Meja yang Mengubah RPG Modern

Namun, rencana tersebut tidak pernah berkembang menjadi proyek nyata. Ada kendala terbesar yang menyulitkan.

Yaknk pada teknologi yang digunakan untuk mengembangkan dua game pertama: Dragon Age: Origins (2009) dan Dragon Age II.

Berbeda dengan seri Mass Effect yang menggunakan Unreal Engine. Itu lebih mudah dimodernisasi.

Sedangkan game awal Dragon Age dibangun menggunakan Aurora Engine, mesin game internal milik BioWare.

BACA JUGA:Game RPG 'Metaphor: ReFantazio' Terjual 1 Juta Copy di Hari Pertama Rilis

BACA JUGA:Dapatkan Salah Satu Game RPG Terbaik dan Populer Ini dengan Diskon Besar di Steam!

Masalahnya, cara kerja engine tersebut sulit dipahami. BioWare kekurangan tenaga ahli. "Untuk membuat remaster, BioWare harus membentuk tim baru," ujar Darrah.

"Terutama orang-orang yang memahami teknologi lama atau bahkan membangun ulang game menggunakan engine yang lebih modern," tambahnya.

Ia meyakini bahwa remaster Dragon Age: Origins sebenarnya memiliki potensi penjualan yang sangat baik.

Bahkan menurutnya, game tersebut merupakan kandidat paling layak mendapatkan pembaruan visual. Karena kualitas grafisnya sudah mulai tertinggal dibanding standar game RPG modern.


Dragon Age merupakan franchise game RPG yang dianggap inovatif pada zamannya. --Gamerant

BACA JUGA:Bosen Game MOBA dan RPG? Coba Main Wild Woods dari Octofox Games

BACA JUGA:Kode GTA 6 PS5 Terkunci Wilayah, Gamer Berpotensi Gagal Aktivasi

Meski demikian, Darrah meragukan Electronic Arts (EA) bersedia mengalokasikan sumber daya yang dibutuhkan.

Ia menilai proyek sebesar itu akan mengharuskan BioWare membuat langkah antisipatif. Yakni mengalihkan tenaga pengembang dari proyek lain yang sedang berjalan.

Semua itu jadi kabar kurang menggembirakan bagi masa depan franchise Dragon Age. Sebelumnya, Darrah juga menyebut dirinya sudah tak tahu menahu soal BioWare.

Termasuk sosok di balik pengembang yang siap mengajukan proyek Dragon Age terbaru kepada EA.

BACA JUGA:Game Like a Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii Pamer Gameplay Lewat Trailer Terbarunya

BACA JUGA:Dragon Quest 3 HD-2D Remake Dapatkan Upgrade Gratis untuk Nintendo Switch 2

Bahkan menurut pengetahuannya, tidak banyak pengembang internal yang tertarik untuk kembali mengerjakan seri tersebut.

Komentar itu sejalan dengan pernyataan mantan penulis utama Dragon Age David Gaider. Ia sebelumnya menyebut bahwa EA sudah lama kehilangan kepercayaan terhadap franchise tersebut.

Meski Gaider mengaku masih menyukai dunia Dragon Age, ia menilai rekam jejak EA membuat kemungkinan lahirnya proyek baru menjadi semakin sulit.

Padahal, Dragon Age pernah menjadi salah satu waralaba RPG paling sukses milik BioWare. Dragon Age: Origins dirilis pada 2009 dan terjual lebih dari tiga juta kopi.

BACA JUGA:5 Game Dungeons & Dragons Gratis di Steam yang Wajib Dicoba

BACA JUGA:Daima DLC Terbaru Dragon Ball Z Kakarot, Perpanjang Epilog Anime dengan Adegan Baru

Hingga seri itu berkembang melalui berbagai ekspansi, DLC, serta dua sekuel dalam kurun waktu lima tahun.

Setelah vakum hampir satu dekade, BioWare merilis Dragon Age: The Veilguard. Namun, performa komersial game tersebut mengecewakan. 

Tidak memenuhi ekspektasi EA. Sehingga masa depan franchise kini kembali dipenuhi tanda tanya. (*)

Kategori :