Pemkot Surabaya Dukung Ojol Perempuan Berdaya dari Rumah

Sabtu 01-08-2026,19:22 WIB
Reporter : Rossa Handini
Editor : Noor Arief Prasetyo

"Kalau misalnya mereka butuh latihan menjahit dan sebagainya, kita welcome. Tetapi untuk mesin nanti kita ke Disperindag atau kita carikan CSR dari Baznas atau apa, agar nantinya itu survive," ujar Agus Hebi.

BACA JUGA:Kolaborasi SIER-Pemkot Surabaya Pacu Riset untuk Industri

BACA JUGA:Pemkot Surabaya Resmikan RICH Pakal, 600 Anak Antusias Ikut Kursus Bahasa Inggris Gratis

Meski demikian, Agus Hebi menilai bantuan peralatan saja belum cukup. Menurutnya, pendampingan dan penguatan mental menjadi faktor penting agar usaha yang dijalankan dapat bertahan. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya, Ida Widayati mengatakan, program pemberdayaan ini termasuk perempuan penyandang disabilitas agar semakin mandiri secara ekonomi.

"Jadi kita memang tidak hanya mengintervensi teman-teman ojol perempuan, tapi juga perempuan disabilitas. Itu juga perlu kami dampingi untuk lebih berdaya secara ekonomi," ujar Ida.

Ia menyebutkan pendampingan terhadap ojol perempuan telah dimulai sejak tahun lalu. Pada 2025, sekitar 150 pengemudi perempuan memperoleh berbagai pelatihan, mulai dari cooking class, makeup artist (MUA), hingga pemeriksaan kesehatan reproduksi yang bekerja sama dengan rumah sakit.

BACA JUGA:Eri Cahyadi Marah Banyak Aduan Warga Masuk ke Hotline Pemkot: Camat dan Lurah Nggak Kerja!

BACA JUGA:Pemkot Surabaya Perkuat Akses Pendidikan, 7.380 Pelajar Terima Bantuan Sekolah

"Memang teman-teman ojol perempuan ini sejak tahun kemarin kita sudah mulai mengintervensi tetapi tidak dalam jumlah besar. Jadi tahun kemarin itu sekitar 150 ojol perempuan sudah mendapatkan pendampingan dari kita," katanya.

Ida menegaskan program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, agar pengemudi ojol perempuan dapat mengurangi waktu bekerja di jalan dan memiliki sumber pendapatan dari rumah. 

"Memang arahan Walikota adalah agar perempuan Ojol ini mengurangi waktunya di jalan. Jadi boleh berkegiatan tetap menjadi Ojol, tetapi lebih dikurangi waktunya," ujarnya.

Menurut Ida, proses pemberdayaan membutuhkan waktu karena hasil pelatihan tidak dapat langsung meningkatkan pendapatan peserta. "Memang perlu proses dan waktu, tidak serta-merta setelah kita lakukan pelatihan kemudian mereka bisa lepas dengan peningkatan ekonominya signifikan," katanya.


Pelatihan sablon untuk para ojol perempuan sudah berjalan sejak tahun 2022, namun masih tetap butuh pendampingan lagi, supaya tumbuh daya juangnya-Pemkot Surabaya-

Ia mengakui tantangan terbesar adalah membangun semangat dan daya juang peserta. Sebab, penghasilan sebagai pengemudi ojol dapat diperoleh setiap hari, sedangkan usaha hasil pelatihan membutuhkan proses hingga berkembang.

"Mungkin salah satu faktornya adalah kalau ojol itu dia setiap hari langsung dapat uang. Nah, kalau kegiatan yang sudah kita latih itu kan pasti butuh proses," ujarnya.

Kategori :