HARIAN DISWAY – Pemerintah Spanyol memasang pagar penghalang sepanjang 500 meter di perbatasan laut antara wilayah Ceuta di Afrika Utara dan Maroko pada Sabtu, 2 Agustus 2026.
Pemasangan dilakukan setelah gelombang kedatangan sekitar 60.000 migran yang dalam dua hari terakhir menewaskan sedikitnya 67 orang dan memicu krisis kemanusiaan serta kekhawatiran di Uni Eropa.
Pagar dipasang di kawasan pemecah gelombang Tarajal, salah satu titik utama yang digunakan ribuan migran untuk memasuki Ceuta dengan berenang dari pesisir Maroko.
Pemerintah Spanyol menyebut lonjakan penyeberangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya.
BACA JUGA:Pesawat Tempur F-35 AS AS Jatuh di Dekat Pangkalan Miramar, Pilot Selamat
BACA JUGA:Arab Saudi Bentuk Aliansi Maritim Bersama 13 Negara untuk Amankan Laut Merah dan Bab al-Mandeb
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan sebagian besar migran yang memasuki Ceuta sejak Kamis telah kembali secara sukarela ke Maroko.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengatakan, "Hampir semua yang memasuki Ceuta kini telah kembali ke Maroko."
Otoritas Spanyol menyebut sedikitnya 67 orang meninggal dalam upaya penyeberangan tersebut.
Sebagian korban tenggelam saat berenang menuju wilayah Spanyol, sementara lainnya tewas akibat terinjak-injak ketika berusaha memanjat pemecah gelombang yang menjadi lokasi pagar perbatasan.
Pemerintah juga memperingatkan kemungkinan masih terdapat korban tambahan di sisi perbatasan Maroko.
BACA JUGA:Bertemu Trump, Zelensky Kantongi Lisensi Produksi Rudal Patriot untuk Ukraina
BACA JUGA:Netanyahu Temui Trump di Gedung Putih, Iran Jadi Agenda Utama Pembahasan
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, yang mengunjungi Ceuta pada Jumat, menegaskan bahwa gelombang migran tersebut merupakan "pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah Spanyol".
Ia juga menyalahkan jaringan penyelundup manusia yang disebut menyebarkan informasi menyesatkan mengenai putusan Mahkamah Agung Spanyol terkait kebijakan pemulangan migran.