Setelah MBG Keluar dari Anggaran Pendidikan

Minggu 02-08-2026,18:46 WIB
Oleh: Suryanto*

BACA JUGA:Respons Putusan MK soal MBG, Istana Pastikan Akan Pelajari Dampaknya

Sisi positifnya, pemisahan ini membuat tata kelola MBG menjadi lebih transparan. Publik selama ini kesulitan mengukur biaya riil MBG sebagai program nasional. Ketika anggarannya berdiri sendiri, semuanya menjadi terang benderang: berapa biaya makan per anak, ongkos distribusi, operasional dapur, hingga persentase dana yang benar-benar sampai ke piring siswa.

Evaluasi dampaknya pun menjadi lebih terukur. Kita bisa langsung melihat apakah status gizi anak membaik, angka stunting turun, atau kehadiran dan prestasi belajar siswa meningkat. Jika hasilnya positif, legitimasi MBG akan semakin kuat. Jika sebaliknya, evaluasi dan perbaikannya jauh lebih mudah dilakukan. Program besar yang menggunakan uang rakyat dalam jumlah raksasa harus terbuka terhadap transparansi angka.

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan dan lembaga terkait tidak boleh langsung bersantai setelah beban MBG dialihkan. Beban moral mereka justru berlipat ganda. Publik kini berhak menagih hasil nyata dari anggaran pendidikan yang telah utuh.

Jumlah sekolah rusak, nasib guru honorer, minimnya laboratorium dan perpustakaan yang layak, hingga riset yang mangkrak harus segera dibenahi. Pertanyaan paling mendasar harus dijawab: apakah anak Indonesia benar-benar semakin pintar? Jangan sampai MBG sudah keluar, sedangkan mutu pendidikan kita tetap tinggal kelas.

Pemisahan pos anggaran tidak otomatis menjamin tata kelola yang baik. Jika kebocoran dana pendidikan masih terjadi dan distribusi anggaran MBG tidak efisien, perubahan ini hanya sebatas perpindahan nama rekening. MK baru memisahkan dompetnya, belum memperbaiki cara belanjanya.

Untungnya, pemerintah masih memiliki masa transisi hingga tahun 2028 sebelum aturan ini diterapkan sepenuhnya. Waktu yang ada harus dimanfaatkan untuk menyusun ulang arsitektur fiskal secara matang, tanpa perlu memindahkan angka secara asal dari kolom A ke kolom B.

Pada akhirnya, MBG dan pendidikan tidak perlu dipertentangkan karena keduanya sama-sama vital. Makan bergizi memastikan fisik anak bertumbuh; pendidikan memastikan masa depan mereka berkembang.

Tugas negara sekarang adalah memastikan keduanya mendapat piring masing-masing secara adil. Jangan dicampur lagi. Jika dua piring dianggap satu, kita tidak pernah tahu siapa yang sudah kenyang dan siapa yang sebenarnya masih kelaparan.

*)Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya dan Rektor Universitas 45 Surabaya 2025-2029

Kategori :