Kembalikan MBG ke Dapur Rakyat
Ilustrasi ChatGPT--

Budiono.--
Sedih rasanya melihat korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berjatuhan. Berbagai pihak sudah memberikan masukan. Namun Badan Gizi Nasional (BGN) tampak belum menemukan solusi yang tepat. Malah mau bikin marketplace supplier MBG. Bagus untuk transparansi, tapi bukan solusi yang tepat untuk kasus keracunan massal yang paling urgent untuk diatasi.
Belum lagi soal janji yang molor. Awal September lalu, Kepala BGN Sudaryono berjanji menerbitkan aturan baru soal insentif dapur. Paling lambat Senin, 7 September, katanya. Sampai saya menulis ini, belum ada kabar terbitnya aturan itu. Apakah janji tinggal janji?
Sementara itu, korbannya terus bertambah. Rasanya tiada hari tanpa kabar keracunan MBG sepanjang September ini. Tanggal 1, ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam di Sidoarjo jadi korban. Jumlahnya membengkak sampai 730 orang. Berikutnya 777 siswa dan guru SMAN 1 Lasem di Rembang. Lalu 334 orang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kemudian 15 siswa dan seorang kepala sekolah SD di Bener Meriah, Aceh. Tanggal 3, gantian 260 siswa dan guru SMPN 1 Kabuh, Jombang. Memasuki pekan kedua, muncul lagi 141 korban di Blora. Disusul kejadian di Bantul dan Sleman pada hari yang sama.
Lalu di Pati, angkanya terus merangkak naik sampai tembus 424 orang, memaksa pemerintah setempat menetapkan status Kejadian Luar Biasa. Belum genap sepuluh hari sejak awal bulan, sudah lebih dari 2.300 orang jadi korban baru. Belum juga reda, menyusul 352 siswa di Batukliang, Lombok Tengah, dua hari kemudian, dengan pola yang sama persis: makanan dimasak dini hari, sebagian sekolah terlambat membagikan, batas waktu aman makan pun terlewati. Ini bukan September ceria, seperti judul sebuah lagu, tapi September kelabu. Kalau sudah menyebar ke begitu banyak provinsi dalam waktu sesingkat itu, menurut saya ini kegagalan sistemik yang dibiarkan berlarut-larut.
BACA JUGA:Abu Anak Krakatau Bikin Sekolah PJJ, Penyaluran MBG Ikut Dihentikan Sementara
Yang paling bikin saya miris, seorang siswi 16 tahun di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, diduga sampai mengalami gangguan ingatan setelah keracunan MBG, sampai harus dirujuk ke RSCM Jakarta. Bukan lagi sekadar mual dan diare yang sembuh dalam sehari dua hari. Ini kerusakan yang mungkin menetap. Menurut catatan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sudah ada 43.838 korban keracunan MBG di 36 provinsi sejak program ini diluncurkan Januari 2025.
Pola lama masih terus berulang. Begitu ada anak keracunan, dapurnya paling banter "disetop sementara". Bukan ditutup permanen. Padahal solusinya sederhana menurut saya: begitu ratusan anak terbukti keracunan dari satu dapur, tutup permanen saat itu juga. Tidak usah menunggu hasil lab.
Sudah banyak korban, masih menunggu bukti apa lagi?
Yang menarik, pekan lalu, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengusulkan agar MBG dimasak dan disajikan langsung di kantin sekolah. Bukan cuma meminta guru mencicipi makanan sebagai jaminan keamanan. Makanan yang dimasak di kantin sekolah bisa lebih hangat. Lebih segar. Dan lebih menarik untuk selera anak. Saya menilainya sebagai bentuk dukungan untuk kembali ke dapur berskala kecil.
BACA JUGA:BGN: 90 Persen Kasus Keracunan MBG Gegara Pengelola Dapur Langgar SOP
BACA JUGA:Kasus Keracunan Menu MBG Beruntun, Kepala BGN: Kelalaian SPPG Bisa Berujung Pidana
Sepuluh tahun terakhir saya lihat sendiri di lapangan. Saya rutin mengulas warung-warung kecil untuk channel YouTube Budiono Sukses. Warung-warung itu biasanya cuma menyediakan 100 sampai 300 porsi sekali jualan. Jadi tidak perlu masak sejak tengah malam. Tidak ada yang keracunan makanan basi karena segera dimakan sesaat setelah selesai dimasak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: