Mendidik Intelektual Beradab: Mengapa Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Masih Penting?

Senin 03-08-2026,06:33 WIB
Oleh: Moch. Jalal*

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia memasuki era yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mampu menjawab berbagai persoalan, menyusun laporan ilmiah, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu proses pengambilan keputusan. 

Informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik melalui telepon genggam yang hampir selalu berada di genggaman setiap orang. Ironisnya, pada saat yang sama, kita juga menyaksikan meningkatnya berbagai persoalan kemanusiaan yang tidak mampu diselesaikan hanya dengan kecanggihan teknologi.

Generasi muda saat ini hidup di tengah banjir informasi, tetapi tidak selalu memiliki orientasi yang jelas dalam memaknai kehidupan. Fenomena quarter-life crisis, kecemasan (anxiety), depresi, kesepian, penyalahgunaan media sosial, intoleransi, hingga krisis integritas menjadi isu yang makin sering diperbincangkan. 

Kita hidup pada zaman ketika manusia dapat berdialog dengan kecerdasan buatan, tetapi makin sedikit yang mampu berdialog dengan hati nuraninya sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan kebijaksanaan.

BACA JUGA:Menag Minta Ekoteologi dan Pelestarian Alam Masuk Kurikulum Pendidikan Agama

BACA JUGA:Menteri Ungkap Kurikulum Cinta untuk Redam Doktrin Kebencian dalam Pendidikan Agama

Paradoks tersebut mengantarkan kita pada satu pertanyaan mendasar: apakah persoalan terbesar manusia modern benar-benar terletak pada kurangnya ilmu pengetahuan? Barangkali jawabannya tidak. Persoalan terbesar manusia abad ke-21 justru terletak pada hilangnya kompas moral yang membimbing penggunaan ilmu pengetahuan. 

Ilmu mampu menjelaskan apa yang dapat dilakukan, tetapi tidak selalu menjawab apa yang seharusnya dilakukan. Di sinilah agama menemukan kembali relevansinya sebagai sumber nilai yang membimbing arah perjalanan ilmu dan peradaban.

Dalam tradisi Islam, ilmu dan keimanan tidak pernah diposisikan sebagai dua kutub yang saling bertentangan. Al-Qur’an justru menempatkan keduanya sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban manusia. 

Allah SWT berfirman, ”...Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (Q.S. Al-Mujādilah [58]: 11). 

BACA JUGA:Kepemimpinan Digital dan Intelektual di Era Teknologi Informasi

BACA JUGA:Runtuhnya Intelektualitas NKRI

Menariknya, ayat tersebut mendahulukan penyebutan iman sebelum ilmu, seolah mengingatkan bahwa ilmu akan mencapai kemuliaannya ketika dibimbing oleh keimanan, integritas, dan tanggung jawab moral.

Perspektif itulah yang sering kali belum dipahami secara utuh ketika masyarakat memandang pendidikan agama Islam (PAI) di perguruan tinggi. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa pembelajaran agama telah selesai pada masa kanak-kanak, ketika seseorang telah mampu membaca Al-Qur’an, melaksanakan salat, berpuasa, dan memahami dasar-dasar ajaran Islam. 

Akibatnya, kehadiran mata kuliah PAI dalam pendidikan dasar bersama (PDB) di perguruan tinggi sering dipersepsikan sekadar sebagai pelengkap kurikulum atau bahkan pengulangan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pandangan itulah yang sesungguhnya perlu diluruskan.

Kategori :