PENGUNDURAN diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjadi perhatian besar bagi pelaku pasar, investor, dan masyarakat. Reaksi awal berupa pelemahan rupiah hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dan koreksi tipis indeks harga saham gabungan (IHSG) menunjukkan bahwa pasar memang sensitif terhadap perubahan kepemimpinan bank sentral.
Namun, respons tersebut tidak seharusnya berkembang menjadi kepanikan. Justru pada momen seperti inilah kepercayaan terhadap institusi Bank Indonesia harus diperkuat.
Pernyataan Penjabat Sementara (Pjs.) Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti yang meminta pelaku pasar untuk tetap tenang merupakan sinyal yang tepat. Ia menegaskan bahwa arah kebijakan moneter tidak berubah.
Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai prioritas utama, sekaligus melanjutkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi melalui instrumen makroprudensial.
BACA JUGA:Burden Sharing, Independensi Bank Indonesia, dan Potensi Risiko Fiskal
BACA JUGA:Independensi Bank Indonesia Pasca-UU P2SK
Selain itu, BI akan terus hadir di pasar melalui intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan non-deliverable forward (NDF) untuk meredam volatilitas nilai tukar.
Pernyataan tersebut penting karena pasar keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh indikator ekonomi, tetapi juga oleh ekspektasi. Ketika bank sentral mampu memberikan kepastian bahwa kebijakan tetap berjalan sebagaimana mestinya, ruang bagi spekulasi dan kepanikan dapat diminimalkan.
Fundamental Ekonomi Masih Menjadi Penyangga
Di balik dinamika transisi kepemimpinan, fundamental ekonomi Indonesia sesungguhnya masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pada rapat dewan gubernur tanggal 21–22 Juli 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI rate sebesar 5,75 persen, dengan deposit facility 4,75 persen dan lending facility 6,50 persen.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa bank sentral menilai bauran kebijakan moneter yang ada masih memadai untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
BACA JUGA:Independensi Bank Indonesia dan Mahkamah Konstitusi
BACA JUGA:Ekonom Celios Ungkap Kekhawatiran Pasar Jika Independensi Bank Indonesia Terganggu
Bank Indonesia juga tetap berkomitmen menjaga inflasi pada sasaran 2,5±1 persen. Sasaran itu penting karena inflasi yang terkendali akan menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam mengambil keputusan investasi.
Stabilitas harga merupakan salah satu indikator bahwa perekonomian domestik masih berada pada jalur yang sehat meski tekanan eksternal meningkat.