HARIAN DISWAY - Fenomena pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Surabaya belakangan ini mendadak ramai diperbincangkan di media sosial.
Langkah pemagaran yang dinilai terkesan mendadak tersebut memicu sorotan publik serta melahirkan beragam spekulasi liar di tengah masyarakat terkait potensi munculnya gelombang aksi maupun ancaman kerusuhan.
Menanggapi kabar yang beredar, pihak pengelola mal dan asosiasi perbelanjaan menegaskan bahwa pemasangan barrier atau perimeter pengaman tersebut murni bertujuan untuk peningkatan fasilitas keselamatan, peremajaan aset, serta menertibkan arus lalu lintas pengunjung. Meski begitu, langkah fisik yang mencolok ini tetap menimbulkan keresahan dan tanda tanya besar di mata publik.
Sementara itu, para akademisi menyayangkan langkah pusat perbelanjaan ramai-ramai pasar pagar. Sosiolog Universitas Airlangga (Unair), Bagong Suyanto menilai pemasangan pagar di area mal bukanlah solusi yang tepat untuk mengantisipasi potensi kerusuhan. Menurutnya, langkah itu justru berisiko menciptakan dampak psikologis dan sosial yang kontraproduktif.
BACA JUGA:Bukan Karena Kerusuhan, Ini Alasan Pemilik Mal Mulai Pasang Pagar Tinggi
BACA JUGA:Pramono Berharap Pagar Pembatas Mal Dilepas: Jangan Berlebihan Karena Rasa Khawatir!
"Pemasangan pagar yang terkesan mendadak dan tidak biasa memang bisa menimbulkan spekulasi liar di masyarakat. Banyak yang mengaitkannya dengan potensi terjadinya kerusuhan seperti peristiwa Mei 1998. Kekhawatiran ini wajar muncul karena tindakan tersebut memicu persepsi eksklusivitas," ujar Bagong kepada Harian Disway, Minggu, 3 Agustus 2026.
Bagong menyebut, secara teknis, pagar fisik tidak akan mampu membendung massa jika kerusuhan benar-benar terjadi. Sebaliknya, kehadiran pagar pembatas justru mempertegas kesan mall sebagai simbol kemapanan yang berjarak dari realitas sosial di sekitarnya. "Tindakan pasang pagar ini menimbulkan tafsir eksklusivitas yang mempertegas dikotomi antara pengelola mal dan masyarakat luas," tambahnya.
BACA JUGA:Spanyol Pasang Pagar Laut Sepanjang 500 Meter di Ceuta Pascaserbuan Imigran
Sebagai alternatif, akademisi senior Unair tersebut menekankan bahwa aspek keamanan seharusnya tetap diserahkan kepada pihak yang berwenang. Alih-alih mengambil langkah preventif mandiri yang bersifat fisik dan mencolok.
Menyikapi berkembangnya narasi-narasi negatif di tengah masyarakat akibat fenomena ini, Bagong menyarankan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk meredam kegelisahan. "Pemerintah perlu menenangkan suasana. Persepsi liar yang berkembang di publik perlu diantisipasi agar tidak membesar menjadi ketakutan yang tidak beralasan," pungkasnya.(*)