Setiap orang berkontribusi sesuai kemampuan dan waktunya. Ada yang membantu menanam, menyiram, membersihkan area, mengelola kegiatan, berbagi pengetahuan, atau hadir untuk mendukung kebersamaan.
Di antara para volunter tersebut terdapat seorang mahasiswa penyandang disabilitas asal Uganda. Keterlibatannya memberikan pelajaran penting bagi kami mengenai pembelajaran inklusif.
Community garden (kebun komunitas) menyediakan ruang partisipasi yang tidak menilai seseorang berdasar keterbatasannya, tetapi melihat kemampuan, pengalaman, dan kontribusinya. Kami menyaksikan bahwa kegiatan berkebun dapat mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara, kondisi, dan latar belakang setara.
Pengalaman itu memperkuat keyakinan kami bahwa program pengabdian dan pembelajaran komunitas harus dirancang aksesibel, ramah disabilitas, dan memberikan peran nyata kepada setiap peserta.
Bagi kami, Murdoch Community Garden merupakan contoh kuat program belajar bersama komunitas. Kebun itu menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara mahasiswa, akademisi, keluarga, dan warga sekitar. Pengetahuan tidak mengalir satu arah dari universitas kepada masyarakat, tetapi dibangun melalui pengalaman, dialog, dan praktik bersama.
Masyarakat dapat berbagi pengetahuan lokal, sedangkan mahasiswa membawa perspektif akademik dan gagasan inovatif. Model itu penting untuk memperkuat pengabdian kepada masyarakat karena kegiatan tidak berhenti sebagai acara sesaat, tetapi tumbuh menjadi kemitraan berkelanjutan yang menjawab kebutuhan.
Kolaborasi mahasiswa dari berbagai fakultas penting untuk mempelajari dan mengembangkan kebun komunitas. Mahasiswa pertanian dan sains dapat mempelajari budi daya, keanekaragaman hayati, dan kualitas tanah.
Mahasiswa kesehatan dan psikologi dapat mengkaji manfaat ruang hijau bagi kesehatan fisik dan mental. Mahasiswa teknik dapat merancang sistem irigasi hemat air atau teknologi pemantauan tanaman.
Mahasiswa ekonomi dan bisnis dapat membantu mengembangkan model pengelolaan berkelanjutan. Mahasiswa komunikasi, sosial, dan humaniora dapat memperkuat edukasi publik, dokumentasi, dan keterlibatan warga.
Dengan demikian, kebun komunitas menjadi laboratorium hidup tempat berbagai disiplin bekerja untuk tujuan bersama.
Kebun komunitas juga berperan dalam memperkuat ketahanan pangan. Melalui praktik menanam, mengelola benih, membuat kompos, memanfaatkan lahan terbatas, dan memanen hasil kebun, mahasiswa serta masyarakat memahami proses produksi pangan langsung. Pengetahuan itu penting di tengah perubahan iklim, meningkatnya kebutuhan pangan, dan potensi gangguan rantai pasok.
Kebun komunitas memang tidak menggantikan pertanian berskala besar, tetapi dapat menjadi sarana pendidikan pangan, meningkatkan keterampilan budi daya, mengurangi limbah organik, dan mendorong konsumsi bertanggung jawab. Hasil kebun juga dapat mendukung kegiatan sosial atau membantu anggota komunitas yang membutuhkan.
Lebih dari itu, keterlibatan komunitas membuat kebun berfungsi sebagai support system bagi mahasiswa. Tidak semua mahasiswa memiliki jaringan sosial yang kuat, terutama mereka yang berasal dari luar kota atau luar negeri, menghadapi tekanan akademik, mengalami kesepian, atau membutuhkan ruang aman untuk berinteraksi.
Melalui kegiatan berkebun, mahasiswa dapat bertemu dalam suasana santai, membangun pertemanan, berbagi cerita, dan merasa menjadi bagian dari komunitas. Kehadiran keluarga, warga sekitar, staf, dan sesama mahasiswa menjadikan kebun bukan hanya ruang hijau, melainkan juga ruang sosial yang menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian.
Kebun komunitas juga berpotensi menjadi sarana terapi alam pendamping bagi mahasiswa yang sedang menjalani penyembuhan kanker.
Suasana hijau, udara terbuka, aktivitas ringan, dan interaksi sosial yang suportif dapat menciptakan pengalaman yang menenangkan selama pemulihan. Kegiatan seperti menyiram tanaman, menyemai benih, atau duduk menikmati kebun dapat memberikan rutinitas positif dan memperkuat harapan.