Oleh karena itu, keberadaan role model yang baik menjadi salah satu fondasi terpenting dalam pendidikan dokter. Hal tersebut makin menjadi tantangan.
Dulu pendidikan dokter relatif tersentralisasi, dididik di RS pendidikan utama, di mana jumlah dosen di rumah sakit tersebut relatif banyak dan terbiasa dengan ”vibe” pendidikan. Lalu, berkembang wahana pendidikan jejaring, pendidikan juga dilakukan di rumah sakit di luar rumah sakit pendidikan utama, di mana jumlah dokternya tentu lebih sedikit.
Tujuannya baik. Yakni, calon dokter dan spesialis mendapat paparan kasus lebih banyak. Yang paling penting menjadi perhatian adalah dosen di rumah sakit pendidikan utama maupun di rumah sakit jejaring harus meluangkan banyak waktu untuk mendampingi anak didik, di tengah tuntutan tugas lain berupa pelayanan kepada pasien.
Peserta didik tidak bisa dilepas begitu saja, harus didampingi.
Sebagai contoh, ketika dokter senior turun langsung membimbing operasi, calon dokter dan spesialis bisa melihat bagaimana dosennya melakukan operasi, bagaimana dosennya berkomunikasi dengan semua tim di kamar operasi, bagaimana dosennya sabar dan tidak emosi saat suasana darurat, bagaimana dosennya berkomunikasi dengan pasien dan masih banyak hal lain lagi yang bisa dilihat dan diserap peserta didik.
Semuanya secara tidak langsung akan terekam di benak peserta didik. Pengalaman seperti itulah yang secara perlahan membentuk karakter seorang dokter. Semua perilaku dosennya akan menjadi acuan bersikap ketika mereka lulus kelak.
Selain pendidikan karakter, tantangan besar lainnya adalah memastikan lulusan dokter Indonesia memiliki kompetensi yang setara dengan lulusan negara-negara maju. Era kedokteran modern telah memasuki penggunaan targeted therapy, imunoterapi, molecular testing, hingga operasi robotik.
Penguasaan teori dan kemampuan clinical decision-making memang penting, tetapi pengalaman klinis selama pendidikan juga sangat menentukan kualitas seorang dokter. Bagaimana membuat dokter lulusan Indonesia bisa mempunyai kompetensi setara dokter lulusan Singapura, Malaysia, Jepang, bahkan India.
Lulusan luar negeri dididik di wahana pendidikan yang relatif pembiayaan kesehatannya tidak terbatas, mereka terbiasa dengan molecular testing, targeted therapy, minimal invasive surgery dan semua advanced tretament yang lain, tidak dibatasi plafon biaya yang ketat.
Untuk mengatasi hal tersebut, perlu pemikiran bersama semua stakeholder pendidikan dokter. Teori dan clinical decision making bisa diajarkan, tetapi paparan pengalaman selama pendidikan juga sangat penting.
Dalam setiap akhir diskusi kasus bersama pakar luar negeri, saya selalu mengatakan kepada peserta didik: kita belum tentu bisa memberikan terapi terbaik dan terkini yang ada dunia, tetapi kita harus mengetahui terapi terbaik dan terkini tersebut.
Semoga ke depan slogan tersebut berubah menjadi: terapi terbaik dan terkini di dunia sudah biasa kita berikan di sini bahkan sejak kita pendidikan.
Untuk sementara ini, kita wajib menjelaskan kepada pasien tentang pengobatan berdasar standar dan perkembangan global, tetapi keputusan terakhir tetap pada pasien, menyesuaikan berbagai aspek.
Pendidikan dokter selalu menghadapi tantangan, perkembangan dunia kedokteran berlari cepat. Oleh karena itu, sistem pendidikan dokter harus mampu beradaptasi menghasilkan dokter yang memiliki kompetensi yang mampu bersaing dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dunia.
Semoga semua lulusan pendidikan kedokteran di Indonesia mampu menjadi dokter yang baik, berintegritas, dan berkemampuan sesuai standar global. (*)
*) Brahmana Askandar Tjokroprawiro adalah dosen FK Unair dan wakil ketua Kolegium Obstetri Ginekologi Indonesia.