Banyak universitas makin besar karena reputasi alumninya. Yang lulus maupun tidak. Seperti Harvard University di AS maupun Oxford University di Inggris. Harvard menghasilkan jebolan pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Oxford mencetak banyak perdana menteri di dunia.
Demikian juga UGM. Universitas yang berdiri sejak 1949 itu telah menghasilkan banyak tokoh di daerah maupun nasional. Dulu hampir sebagian besar birokrat daerah alumni UGM. Sebelum universitas setempat melahirkan banyak lulusan.
BACA JUGA:Jokowi Mau Keliling Daerah, PDIP: Barangkali Mau Netralisir Polemik Ijazah Palsu
BACA JUGA:CLS dan Ijazah Jokowi
Di situlah sesungguhnya letak kekuatan perguruan tinggi. Bukan semata pada gedung-gedungnya yang megah. Laboratoriumnya yang modern. Atau, peringkatnya dalam berbagai pemeringkatan dunia.
Semua itu penting. Namun, yang jauh lebih menentukan justru kehidupan yang berlangsung di sela-sela ruang kuliah. Kehidupan yang tak pernah tercantum dalam kurikulum. Namun, diam-diam membentuk masa depan seseorang.
Mahasiswa sesungguhnya lebih banyak belajar dari kehidupan daripada buku. Mereka belajar dari teman sekamar yang berbeda agama. Dari sahabat yang berasal dari pulau lain. Dari rapat organisasi yang berakhir tengah malam.
Juga, belajar dari kepanitiaan yang penuh tekanan. Dari diskusi yang tak pernah selesai di kantin. Dari demonstrasi. Juga, dari pengabdian kepada masyarakat. Bahkan, dari kegagalan yang membuat mereka harus bangkit kembali.
BACA JUGA:SBY Pertimbangkan Langkah Hukum soal Isu Ijazah Palsu Jokowi
BACA JUGA:Denny Indrayana Bergabung Bela Roy Suryo Cs dalam Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi
Kampus adalah laboratorium kehidupan. Di sana anak-anak muda dari berbagai penjuru Indonesia dipertemukan oleh nasib yang sama. Mereka sama-sama sedang mencari jati diri.
Mereka datang membawa identitas daerah, bahasa, kebiasaan, dan cara pandang masing-masing. Mereka belajar hidup bersama. Belajar menghormati perbedaan. Belajar mendengar sebelum berbicara. Belajar menerima bahwa kebenaran tak selalu dimonopoli dirinya sendiri.
Kepemimpinan tak lahir dari kemampuan menghafal teori. Ia lahir ketika seseorang belajar mengelola perbedaan. Mengambil keputusan dalam situasi sulit. Memikul tanggung jawab. Pun, berani menanggung konsekuensi dari pilihannya. Itu tak diajarkan di ruang kuliah.
Banyak tokoh besar justru mengenang pengalaman organisasinya lebih lama ketimbang isi diktat kuliahnya. Mereka masih mengingat rapat-rapat yang melelahkan. Perdebatan yang panas. Aksi-aksi mahasiswa. Kegiatan sosial. Atau, persahabatan yang melintasi puluhan tahun.
Saya pun merasakan hal yang sama. Yang paling saya kenang bukan ruang kuliah atau nilai ujian. Justru yang menbekas percakapan panjang dengan teman, aktivitas di organisasi, menjadi wartawan kampus, bertemu orang dengan latar belakang beragam, dan jaringan persahabatan yang tetap hidup sampai hari ini.
Belakangan saya menyadari, mungkin itulah ”mata kuliah” paling berharga selama menjadi mahasiswa. Mata kuliah yang tidak pernah tercetak di transkrip akademik. Tapi, paling banyak menentukan perjalanan hidup seseorang.