Wisjnu atau Wisnu dalam khazanah kebudayaan Jawa merujuk pada sosok pemelihara kehidupan dan penjaga keseimbangan. Ia hadir bukan terutama untuk menciptakan sesuatu dari awal, melainkan untuk merawat agar kehidupan tetap berlangsung dan tatanan tidak mengalami kehancuran.
Bukankah itu pula yang dilakukan Om Wisjnu sepanjang hidupnya?
Ia ikut menjaga lembaga keagamaan, merawat persahabatan, membenahi tata kelola organisasi sosial, dan memberikan landasan hukum bagi korporasi. Ia tidak selalu berdiri di panggung paling depan. Namun, pemikiran dan sentuhan tangannya ikut menjaga agar banyak hal dapat berjalan dengan benar.
Nama ”Broto” juga mengingatkan saya pada kata ”brata” dalam tradisi Jawa: laku, tekad, pengendalian diri, dan kesetiaan menjalani prinsip hidup. Karena itulah, saya ingin mengenangnya sebagai Wisjnu yang menjalani ”topo broto” –laku prihatin dan pengendalian diri untuk menemukan kedalaman hidup.
Topo tidak berarti meninggalkan dunia. Topo justru bisa dilakukan di tengah kesibukan dunia. Seorang bankir dapat bertapa melalui integritasnya. Seorang ahli hukum dapat bertapa dengan tidak menjual pengetahuannya untuk membenarkan yang salah. Seorang aktivis sosial dapat bertapa dengan bekerja tanpa selalu meminta pengakuan.
Om Wisjnu menjalani topo broto itu di banyak ruang. Di dunia korporasi, ia bekerja dengan disiplin profesional. Di lingkungan pesantren, ia menundukkan diri sebagai santri. Di tengah organisasi sosial, ia menjadi penjaga tata kelola.
Dalam gerakan kebangsaan, ia bergaul dengan para tokoh lintas kalangan tanpa kehilangan identitasnya sebagai seorang nasionalis santri.
Pergaulannya dengan tokoh-tokoh nasional, termasuk almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), menunjukkan keluasan cakrawalanya. Gus Sholah dikenal sebagai figur yang mampu mempertemukan keislaman, kebangsaan, demokrasi, dan tata kelola kelembagaan. Nilai-nilai itulah yang juga hidup dalam diri Om Wisjnu.
Keduanya berasal dari tradisi yang meyakini bahwa mencintai agama tidak perlu dilakukan dengan menjauh dari negara. Menjadi santri tidak berarti menutup diri dari modernitas. Sebaliknya, nilai-nilai spiritual harus hadir dalam tata kelola organisasi, dunia usaha, pelayanan sosial, dan kehidupan kebangsaan.
Om Wisjnu dapat berdiskusi dengan kalangan pesantren, profesional, aktivis, maupun tokoh nasional. Ia menjadikan jejaring tersebut bukan sekadar pergaulan elite. Baginya, persahabatan merupakan jalan mempertemukan gagasan dan memperbesar manfaat.
Itulah nasionalisme santri yang saya lihat dalam dirinya. Nasionalisme yang tidak banyak berteriak, tetapi hadir dalam pekerjaan nyata. Nasionalisme yang tumbuh dari kesadaran bahwa Indonesia hanya dapat dirawat melalui perjumpaan, dialog, kepercayaan, serta kesediaan membangun institusi yang sehat.
Kepergiannya meninggalkan kehilangan besar bagi keluarga, sahabat, Jamaah Al Khidmah, Pondok Pesantren Al Fithrah, P4MU, dan semua orang yang pernah bekerja bersamanya.
Kami kehilangan seorang sahabat yang dapat menghubungkan langit spiritual dengan bumi profesional. Seorang santri yang memahami korporasi. Seorang ahli hukum yang tetap mempunyai kepekaan sosial. Seorang nasionalis yang berakar kuat dalam tradisi keagamaan.
Saya juga kehilangan teman diskusi. Orang yang bisa memberikan pandangan secara lugas, tetapi tidak merasa paling tahu. Orang yang mengingatkan tanpa menggurui. Orang yang ikut menjaga P4MU dan Rumah Sakit Mata Undaan bukan hanya sebagai aset organisasi, melainkan juga sebagai amanah kemanusiaan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kini Om Wisjnu telah menyelesaikan topo broto-nya di dunia. Sang pemelihara itu telah kembali kepada Sang Maha Pemelihara. Namun, laku hidupnya meninggalkan pesan: jabatan akan berakhir, korporasi dapat berubah, dan organisasi bisa berganti pengurus, tetapi jejak pengabdian akan tetap tinggal.
Selamat jalan, Om Wisjnu!