Senja Tak Lagi Jatuh di Kenjeran, Ia tersangkut di Plastik

Senja Tak Lagi Jatuh di Kenjeran, Ia tersangkut di Plastik

Papan peringatan bertuliskan 'Dilarang Buang Sampah' di Pantai Kenjeran, Surabaya.-Risfa Shine Balqis-

SURABAYA sering dipuji sebagai kota yang bersih, hijau, dan penuh dengan prestasi lingkungan. Bahkan di tingkat nasional.

Namun, jika kita menepi sejenak ke arah timur laut, tepatnya di sepanjang pesisir Pantai Kenjeran, kita akan disuguhi sebuah realitas yang kontras.

Pantai Kenjeran, dengan segala nilai sejarah dan pesona ombaknya yang tenang, kini memikul beban berat. Akibat aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

Sebuah potret nyata dari rekaman lapangan (footage) memperlihatkan sebuah pemandangan yang mengusik nurani: tumpukan limbah plastik, kemasan makanan, hingga sisa-sisa material tekstil menggunung di atas pasir pantai.

BACA JUGA:Festival Bulan Purnama di Kelenteng Sanggar Agung Kenjeran, Sejoli Melepas Lampion Harapan

BACA JUGA:Pelindo Marine Ajak Anak Kenjeran Jaga Lingkungan Lewat Mariners Mengajar

Hal yang paling ironis dan menghentak kesadaran adalah keberadaan sebuah papan petunjuk usang. Papan itu berdiri kokoh di tengah gunungan sampah tersebut. Memuat instruksi yang sangat tegas: "Dilarang Buang sampah di Sini".

Keberadaan papan itu di tengah lautan sampah bukanlah sekadar masalah kebersihan kelautan semata. Fenomena itu adalah sebuah anomali sosial.

Mencerminkan bagaimana masyarakat kita berinteraksi dengan hukum tertulis, etika hidup bersama, dan nilai-nilai spiritual yang saban hari didengungkan.

Papan larangan itu seperti sebuah monumen. Merekam kegagalan komunikasi publik. Sekaligus runtuhnya kepekaan moral manusia modern.

BACA JUGA:Berbicara Lewat Zine Spatial Spiritual, Rusydan Hadid Angkat Realita Masyarakat Pesisir Kenjeran

BACA JUGA:Literasea Fest 2026: Nelayan Kenjeran Tolak Reklamasi yang Renggut Ruang Hidup dan Budaya Pesisir

Ketika menatap kalimat "Dilarang Buang Sampah di Sini" yang dikelilingi oleh ribuan botol plastik, ada sebuah pertanyaan mendasar.

Pertanyaan itu muncul dari sudut pandang komunikasi dan pemahaman bahasa. Secara struktural, kalimat tersebut dirancang dengan sangat sempurna untuk sebuah instruksi di ruang publik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: