Senja Tak Lagi Jatuh di Kenjeran, Ia tersangkut di Plastik

Senja Tak Lagi Jatuh di Kenjeran, Ia tersangkut di Plastik

Papan peringatan bertuliskan 'Dilarang Buang Sampah' di Pantai Kenjeran, Surabaya.-Risfa Shine Balqis-

Alam semesta itu diciptakan dalam kondisi yang seimbang, penuh berkah, dan bersih. Ketika manusia mengotorinya secara sengaja, terlebih di area yang sudah jelas-jelas dilarang, tindakan tersebut tidak berbeda dengan merusak ciptaan-Nya. Juga mengkhianati amanah pemeliharaan alam.

Keimanan yang sejati seharusnya mewujud pada kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Sebab menghormati Sang Pencipta tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan alam yang diciptakan-Nya.

BACA JUGA:Luluk ke Kenjeran, Soroti PSN yang Mengancam Nelayan

BACA JUGA:Eri-Armuji Dicecar Pertanyaan soal Reklamasi Kenjeran, Begini Responsnya!

Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai regulasi daerah telah diterbitkan. Bahkan ancaman denda pidana ringan hingga puluhan juta rupiah bagi pembuang sampah sembarangan.

Itu sudah sering disosialisasikan. Namun, hukum tertulis maupun ancaman materiil terbukti memiliki keterbatasan. Apalagi jika tidak dibarengi dengan revolusi kesadaran dari dalam diri individu masing-masing.

Papan larangan di Pantai Kenjeran akan tetap menjadi benda mati yang sia-sia selama masyarakat masih memelihara ketidakpedulian.

Menyelesaikan sengkarut sampah di pesisir Surabaya membutuhkan langkah reflektif yang radikal dari kita semua.

BACA JUGA:Kata Nelayan Surabaya soal Reklamasi Kenjeran, Terancam Kehilangan Pekerjaan!

BACA JUGA:Relawan Peduly Surabaya Gelar Aksi Bersih-Bersih di Pantai Kenjeran, Kumpulkan Sampah Plastik hingga Pakaian Bekas

Kita harus mulai belajar membaca ruang publik bukan hanya dengan mata. Tetapi juga dengan empati dan tanggung jawab.

Setiap kata dalam larangan tertulis harus dimaknai sebagai komitmen bersama untuk menjaga keharmonisan hidup berwarga negara.

Kebersihan pantai harus ditempatkan sebagai manifestasi tertinggi dari karakter bangsa yang beradab. Serta wujud nyata dari ketakwaan yang hidup.

Papan larangan di Pantai Kenjeran seharusnya tidak perlu berdiri di sana. Itu juka setiap orang sudah memiliki "papan larangan" yang tertanam kuat di dalam sanubari masing-masing.

BACA JUGA:Ahli Pastikan Amdal Proyek Kenjeran Tidak Akan Dimanipulasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: