Senja Tak Lagi Jatuh di Kenjeran, Ia tersangkut di Plastik

Senja Tak Lagi Jatuh di Kenjeran, Ia tersangkut di Plastik

Papan peringatan bertuliskan 'Dilarang Buang Sampah' di Pantai Kenjeran, Surabaya.-Risfa Shine Balqis-

BACA JUGA:Penutupan Meet Up Nusantara (MUN) 4 di THP Kenjeran Surabaya, Bali jadi Lokasi Selanjutnya

Manusia yang mengaku memiliki kebudayaan tinggi seharusnya memahami. Bahwa kenyamanan pribadinya tidak boleh mengorbankan hajat hidup orang banyak.

Menumpuk sampah di tempat wisata bukan hanya merusak estetika. Tetapi juga menghancurkan ekosistem pesisir, meracuni biota laut dengan mikroplastik.

Hingga pada akhirnya merugikan para nelayan lokal yang menggantungkan hidupnya dari laut Kenjeran. Sangat keliru jika kita menganggap urusan sampah adalah perkara sepele. 

Tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Apalagi hanya dengan mengandalkan dedikasi para petugas kebersihan kota.

BACA JUGA:Taman Hiburan Pantai Kenjeran Raih Juara 2 Kategori Nature Based Tourism dalam Surabaya Tourism Awards 2025.

BACA JUGA:THP Kenjeran Dibanjiri 9.000 Wisatawan selama Libur Lebaran, Puncak Kunjungan Diprediksi Akhir Pekan

Ketika kesadaran untuk menjaga hak sesama warga negara telah lenyap dan digantikan oleh mentalitas "yang penting bukan rumahku yang kotor", maka kita sebenarnya sedang menghadapi ancaman disintegrasi karakter sosial yang serius.

Jika kita merenung lebih dalam lagi, pemandangan kontras di Kenjeran itu sejatinya menjadi sebuah pukulan telak bagi kehidupan spiritual kita.

Sebagai masyarakat yang dikenal sangat religius, dengan simbol-simbol keagamaan begitu mudah ditemui di setiap sudut kota, perilaku membuang sampah sembarangan itu menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara doktrin keimanan dengan realitas perbuatan.

Kita tentu sering mendengar petuah suci yang mengidentikkan kebersihan sebagai cerminan dari kualitas iman seseorang.

BACA JUGA:Umat Konghucu Gelar Cisuak Larung di Pantai Kenjeran, Ritual Tahunan Jelang Imlek

BACA JUGA:Perusuh Disway Ikut Rayakan HUT ke-8 Komunitas Senam Dahlan Iskan, Senam Riang Gembira di Atlantis Land Kenjeran

Namun, tumpukan sampah di bawah papan larangan itu seolah menjadi kesaksian nyata. Bahwa ajaran spiritual sering kali berhenti sebagai hafalan di ruang-ruang kelas atau khotbah mimbar saja. Tanpa pernah benar-benar membumi dalam tindakan sehari-hari.

Menjaga kelestarian bumi dan kebersihan lingkungan hidup adalah amanah suci yang dititipkan kepada manusia sebagai pemimpin di muka bumi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: