Sementara itu, GERD terjadi akibat melemahnya katup di ujung bawah kerongkongan. Itu disebut lower esophageal sphincter (LES).
Ketika katup tersebut tidak menutup sempurna, asam lambung pun mudah naik kembali ke kerongkongan. Lalu menimbulkan sensasi terbakar.
BACA JUGA:Mengenal Kanker Lambung yang Renggut Nyawa Aktris Kang Seo‑ha
BACA JUGA:Ini Waktu Terbaik Minum Kopi saat Puasa Ramadan agar Tidak Perih di Lambung
3. Beda Gejala yang Dirasakan
Penderita gastritis biasanya merasakan nyeri atau rasa penuh di ulu hati, mual, muntah, kembung, hingga cepat kenyang saat makan.
Rasa sakitnya sering digambarkan seperti sensasi mengganjal atau perih di area perut bagian atas.
Di sisi lain, gejala khas GERD adalah heartburn atau sensasi panas di dada bagian tengah. Kemudian regurgitasi atau naiknya cairan asam ke tenggorokan.
Bisa pula dengan gejala batuk kronis. Hingga suara serak akibat iritasi pita suara. Rasa panasnya lebih terasa di dada. Bukan di perut.
BACA JUGA:Cara Menambah Berat Badan Bagi Pemilik Metabolisme Cepat
BACA JUGA:7 Cara Ampuh Atasi Kram Menstruasi Tanpa Obat
4. Beda Pemicu dan Waktu Munculnya Gejala
Gejala gastritis cenderung muncul setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu yang mengiritasi lambung.
Seperti makanan pedas, asam, atau obat tertentu. Rasa sakitnya bisa datang kapan saja, terutama saat perut kosong.
Sementara itu, gejala GERD justru lebih sering memburuk setelah makan dalam porsi besar, saat berbaring, atau ketika membungkuk.
Posisi tubuh sangat memengaruhi tingkat keparahan gejala GERD. Karena berkaitan langsung dengan aliran asam lambung ke arah kerongkongan.
BACA JUGA:Aksi Robot Operasi Lutut dan Balon Lambung Curi Perhatian dalam Launching Medical Tourism
BACA JUGA:7 Kebiasaan Buruk Penyebab Perut Buncit, Salah Satunya Makan Larut Malam!