Secara militer, Iran jelas tidak akan menang dalam perang konvensional terbuka lawan AS. Tapi, Iran paham perang asimetris: mereka cukup membuat sang adidaya mandi keringat, kehabisan napas, dan kelaparan di tengah laut.
Ketika Trump berteriak soal crushing economic operation, itu bukan karena ia punya kalkulasi strategi genius. Itu tanda bahwa tombol kekuatan yang biasa ia tekan sedang macet total.
Amerika Serikat memang punya alasan sah untuk cemas. Ada program nuklir Iran yang sulit ditebak, ancaman rudal jelajah, dan jaringan proksi yang membentang dari Yaman hingga Lebanon. Namun, kecemasan yang berubah jadi kepanikan hanya menghasilkan teriakan tanpa arah.
Musang Terpojok
Eskalasi perang ini tidak akan berhenti di Teluk Persia.
Iran mulai gatal dan menghitung opsi menyerang aset militer Amerika Serikat di Eropa jika eskalasi dinaikkan. Target potensialnya: Pangkalan Udara Bezmer di Bulgaria dan RAF Akrotiri di Siprus. Bulgaria dan Siprus sama sekali tidak punya urusan dengan Iran. Namun, karena menampung aset AS, mereka terancam terseret ke jurang yang sama.
Ada pula skenario yang jauh lebih membuat bulu kuduk berdiri: perusakan kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz.
Jika infrastruktur digital itu diputus, bukan cuma pasokan minyak yang terhenti. Jaringan internet global bisa lumpuh, transaksi perbankan dunia gelap gulita, dan pasar saham internasional akan berdarah-darah. Dunia tidak membutuhkan ledakan nuklir untuk kiamat kecil. Cukup beberapa bom di dasar laut.
Di Yaman, milisi Houthi menyerang kilang minyak Arab Saudi di Jizan. Di Irak, drone Iran menghantam Erbil, kota yang selama ini dianggap paling aman.
Pesannya jelas: kami tahu di mana rumah Anda.
Dari Ruang Oval, Trump kembali menegaskan klaimnya: Iran tidak boleh punya senjata nuklir.
Iran sendiri merasa kian terkepung. Blokade mencekik, sanksi bertumpuk, aset dibekukan, dan pintu UEA kini terkunci rapat. Mereka bertindak seperti musang yang terpojok di sudut ruangan. Dan, musang terpojok tidak akan berpikir panjang untuk mencakar muka siapa pun.
Ini bukan soal membela siapa yang paling benar atau siapa yang paling suci.
Di antara teriakan lantang di Washington dan bisik-bisik intrik di Teheran, ada miliaran manusia biasa yang tidak pernah diajak rapat. Mereka hanya bangun pagi, terkejut melihat harga dolar membubung tinggi, lalu bertanya bingung: ada apa lagi ini?
Semoga, dari sekian banyak dapur kekuasaan yang sedang menanak api perang, ada satu pemimpin yang sudi mematikan kompornya.
Sebab, jika kompor itu terus menyala, tabungan dan masa depan kita yang ikut hangus terbakar. (*)