TADINYA saya ingin menertawakan gertakan Donald Trump. Soal crushing economic operation yang tidak jelas juntrungannya itu. Namun, begitu membaca data terbaru pagi itu, tawa saya mendadak berhenti. Saya berkeringat. Sungguh.
Trump mengunggah peta baru: Selat Hormuz dilabeli milik Amerika Serikat (AS). Iran membalas tidak kalah sengit. Konsulat mereka mengunggah peta balasan: Negara Bagian California diklaim milik Iran.
Awalnya terkesan seperti komedi politik. Namun, begitu rudal benar-benar jatuh di Uni Emirat Arab (UEA), kapal-kapal raksasa berhenti berlayar, dan lalu lintas selat menyusut tinggal 10 persen, tidak ada lagi yang bisa tertawa.
Geli yang mendadak jadi pahit.
BACA JUGA:Kisah Laba-Laba Selat Hormuz
BACA JUGA:Nilai Strategis Selat Hormuz bagi Iran dan Negara Teluk
Gertakan Peta Media Sosial
Perang itu dimulai dari coretan asal-asalan di atas peta.
Trump mengunggah peta Selat Hormuz. Jalur maritim paling vital di bumi itu dicap sebagai wilayah baru AS. Blokade lautnya diberi nama mentereng, ”Dinding Baja”. Washington mengeklaim punya kendali mutlak. Kapal apa pun hanya boleh lewat atas izin mereka.
Teheran tidak kehabisan akal. Mereka membalas dengan sarkasme politik yang menusuk. Konsulat Iran di Hyderabad mengunggah peta Amerika Serikat dengan menyoroti California. Labelnya menggelitik: ”Wilayah Baru Republik Islam Iran”.
Mengapa California?
Di sanalah kantong imigran Iran terbesar di AS bermukim. Los Angeles bahkan punya julukan legendaris: Tehrangeles. Sejak Revolusi 1979, diaspora Iran di sana membangun imperium bisnis, kuliner, dan kebudayaan Persia yang sangat mengakar.
BACA JUGA:Perang Iran dan Kompleksitas Geopolitik di Timur Tengah
BACA JUGA:Tiga Syarat Iran
Pesan Teheran sangat terang. Kalau Washington bisa menggambar ulang peta dunia sesuka hati, Iran juga bisa memilih bagian AS yang paling terasa Teheran.