BACA JUGA:566 Siswa dan Santri Keracunan MBG, Kepala SPPG Kalitengah: Mohon Maaf, Saya Bingung...
BACA JUGA:Kalau Hajatan Bisa Dipidana, Bagaimana Dapur MBG?
Juga 15 siswa di Bener Meriah, Aceh. Menu telur puyuh dan tempe diduga kuat sudah terkontaminasi bahkan sebelum didistribusikan.
Terbaru ada dua kejadian, kemarin. Pertama, di Kabupaten Jombang. Sebanyak 84 siswa dan 4 guru di SMPN 1 Kabuh tumbang bersamaan. Penelusuran awal menunjuk satu nama: udang saus Padang dari SPPG Mangunan.
Kedua, sebanyak 150 siswa dan guru SMP di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ratusan siswa dilarikan ke tiga rumah sakit berbeda untuk menjalani perawatan.
Kotak pandora pun terbuka. Carut-marut tata kelola di lapangan tersingkap. Misalnya, dari 174 SPPG di Sidoarjo, ternyata ada 21 unit yang belum sama sekali mengantongi izin operasional. Izin ditabrak demi mengguyur proyek yang telanjur berjalan.
Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (Gapembi) Jawa Timur pun buka suara. SPPG Kalitengah di Sidoarjo sebenarnya sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan lolos kualifikasi Badan Gizi Nasional.
Tetapi, ada celah menganga akibat dominasi penunjukan birokrat pusat yang berjarak dari realitas lapangan. Antara mitra, relawan, dan kepala SPPG.
Satu dapur diisi kepala unit, ahli gizi, dan akuntan tunjukan BGN. Tenaga kerja direkrut mitra.
"Di lapangan, para relawan kerap mengeluhkan kepemimpinan Kepala SPPG yang kurang proaktif dan minim disiplin manajerial dalam mengawasi dapur berkapasitas 50 pekerja," cetus Ketua DPW Gapembi Jatim Makhrus Soleh kepada Harian Disway, kemarin.