Eropa. Timur Tengah. Indo-Pasifik. Laut Merah. Taiwan. Ukraina. Israel. Iran. Energi. Perdagangan. Siber. Semikonduktor. Rantai pasok. Semua dianggap penting.
Masalahnya, kalau semuanya prioritas, sebenarnya tidak ada lagi yang benar-benar prioritas. Negara adidaya akhirnya seperti orang yang mempunyai sepuluh kompor, tetapi hanya dua tangan.
Semua api menyala. Semua panci harus dijaga. Lalu, heran ketika dapurnya mulai berasap.
Ketika muncul keberatan dari kalangan militer terhadap tempo operasi, persoalannya bukan sekadar beda pendapat antara jenderal dan pejabat sipil. Itu alarm.
Mesin masih hidup. Namun, temperatur mulai naik.
Putin Tidak Perlu Menembak
Di ujung lain papan catur, Vladimir Putin mungkin melihat semua itu dengan cara yang sangat berbeda. Rusia tidak perlu mengalahkan AS di setiap front. Cukup memastikan AS harus membayar mahal untuk mempertahankan terlalu banyak front sekaligus.
Di sinilah filosofi judo berlaku. Jangan melawan tenaga lawan dengan tenaga yang sama besar. Gunakan momentum lawan untuk menjatuhkannya.
Kalau Washington menghabiskan perhatian, uang, amunisi, dan energi politik di Timur Tengah, tekanan terhadap Rusia di Eropa Timur otomatis mempunyai ruang untuk berubah.
Strategi terbaik kadang bukan menciptakan krisis baru. Cukup membiarkan lawan tenggelam dalam terlalu banyak krisis yang sudah ada.
Maka, diplomasi tetap berjalan. Intelijen tetap berbicara. Backchannel tetap dibuka. Para kepala negara tetap berpelukan di forum internasional.
Karena perang modern memang aneh. Di satu meja orang saling mengancam. Di meja lain staf mereka minum teh. Pagi mengirim rudal. Malam bertukar pesan. Besoknya kembali berpidato tentang perdamaian. Tidak ada kontradiksi. Itulah geopolitik.
Adu Napas
Karena itu, saya mulai curiga bahwa perang besar abad ini tidak semata-mata akan dimenangkan oleh negara dengan rudal paling cepat. Bukan pula oleh negara dengan kapal induk paling banyak. Bahkan, mungkin bukan oleh negara dengan algoritma paling pintar.
Pemenangnya adalah negara yang mampu bertahan paling lama tanpa kehilangan keseimbangan. Yang stok amunisinya tidak habis. Yang ekonominya tidak rontok. Yang masyarakatnya tidak pecah. Yang sekutunya tidak kabur.
Yang energi nasionalnya tetap tersedia. Yang rantai pasoknya tetap hidup. Yang elite politiknya tidak saling menggigit. Yang tentaranya tidak kelelahan. Dan, terutama, yang tahu kapan harus menembak serta kapan cukup diam.