Perang modern pada akhirnya adalah pertandingan paru-paru. Adu napas. Karena sebuah negara bisa memenangkan sepuluh pertempuran tetapi tetap kalah dalam perang jika kehabisan tenaga pada ronde kesebelas.
Sun Tzu sudah memperingatkan itu berabad-abad lalu: kemenangan tertinggi bukanlah memenangkan setiap pertempuran. Kemenangan tertinggi adalah membuat lawan kehilangan kemampuan untuk bertempur. Sebab itulah, perang sekarang bisa datang dalam rupa yang aneh.
Meme. Tarif. Sanksi. Perizinan. Mineral. Minyak. Algoritma. Rantai pasok. Dokumen hukum. Satu per satu kelihatannya kecil. Kalau digabungkan, efeknya bisa lebih besar daripada ledakan.
Dan, tiba-tiba saya teringat lagi pada bapak di parkiran tadi. Tangannya memang ternyata sehat. Yang cacat hanya ceritanya. Begitu lima ribu rupiah masuk, sandiwara selesai.
Geopolitik dunia juga kurang lebih begitu. Jangan terlalu cepat percaya kepada tangan yang terlihat patah. Jangan pula terlalu cepat takut kepada tangan yang sibuk mengacungkan rudal.
Kadang negara yang paling keras berteriak sedang menyembunyikan kelemahan. Kadang negara yang terlihat diam justru sedang menghitung. Dan kadang, yang menentukan siapa menang bukan siapa yang paling kuat menghantam. Melainkan, siapa yang paling lama sanggup mengatur napas. (*)