Sungai yang Membisu, Racun yang Berbisik

Jumat 11-09-2026,19:44 WIB
Oleh: Butsainah Danya Apricella*

Fenomena itu bukan sekadar catatan akademis di atas kertas riset. Ia adalah persoalan yang nyata dan dekat, hidup berdampingan dengan keseharian masyarakat di berbagai daerah yang berkembang menjadi kawasan industri baru. Sungai Citarum di Jawa Barat, misalnya, kerap disebut sebagai simbol krisis pencemaran air di tanah air. 

Ribuan pabrik tekstil, kimia, hingga penyamakan kulit berdiri di sepanjang alirannya, melepaskan efluen yang mengandung logam berat seperti kromium, tembaga, seng, dan nikel ke badan sungai. 

Salah satu penanda paling ironis dari kondisi itu adalah ikan sapu-sapu: spesies yang justru dianggap ”kotor” oleh masyarakat awam, padahal sesungguhnya ia hanyalah cermin biologis yang menyerap dan menyimpan logam berat dari lingkungan tempatnya hidup. 

Sayang, kesadaran akan pentingnya pemantauan kualitas air masih kalah gaung jika dibandingkan dengan urusan ekonomi jangka pendek.

Dari Meja Laboratorium ke Meja Kebijakan

Di sinilah letak pentingnya menjembatani dunia laboratorium dengan dunia kebijakan publik. Data hasil uji laboratorium yang akurat dan konsisten semestinya tidak berhenti menjadi arsip di rak penelitian, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan: apakah sebuah kawasan industri layak mendapat izin operasional, apakah air sungai tertentu masih aman dikonsumsi, atau apakah diperlukan intervensi kesehatan masyarakat secara masif.

Tenaga laboratorium medik dan lingkungan, dalam konteks ini, memainkan peran yang jauh lebih besar dari sekadar ”orang di balik mikroskop”. Mereka adalah penerjemah pertama antara alam yang membisu dan masyarakat yang berhak tahu. 

Ketelitian dalam setiap uji sampel bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan garis pertahanan pertama sebelum sebuah ancaman kesehatan berubah menjadi krisis yang lebih besar.

Racun Tak Bersuara, tapi Bisa Dicegah

Kabar baiknya, ancaman yang tak kasatmata itu bukan tanpa solusi. Pemantauan kualitas air secara berkala, transparansi hasil uji laboratorium kepada publik, dan penegakan aturan baku mutu limbah industri adalah langkah-langkah konkret yang bisa mencegah racun tersembunyi itu berubah menjadi bencana kesehatan jangka panjang. 

Masyarakat pun perlu dilibatkan bukan hanya sebagai objek yang terdampak, melainkan juga sebagai mitra yang ikut mengawasi kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.

Sungai yang tampak tenang di pagi hari itu sesungguhnya sedang berbisik, memberi tahu kita tentang apa yang terjadi jauh di bawah permukaannya. Pertanyaannya sekarang: apakah kita cukup peduli untuk mendengarkan, atau memilih menutup telinga sampai bisikan itu berubah menjadi jeritan yang terlambat untuk diobati? (*)


*) Butsainah Danya Apricella adalah mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Airlangga.--

 

Kategori :