Sungai yang Membisu, Racun yang Berbisik
ILUSTRASI Sungai yang Membisu, Racun yang Berbisik.-AI/Gemini-
BAYANGKAN sebuah sungai yang mengalir tenang di belakang permukiman padat penduduk. Airnya tampak jernih di pagi hari, memantulkan langit tanpa dosa. Ibu-ibu masih mencuci pakaian di tepiannya, anak-anak sesekali berenang saat siang terik. Tidak ada yang mencurigakan dari pemandangan itu sampai sebuah tabung reaksi di laboratorium berbicara lain.
Di situlah persoalan sesungguhnya dimulai: racun yang paling berbahaya bukanlah racun yang berbau menyengat atau berwarna mencolok, melainkan yang diam-diam larut, tak kasatmata, dan baru ”berbicara” ketika sampel airnya diuji di bawah mikroskop atau direaksikan dengan pereaksi kimia di laboratorium.
Ketika Mata Telanjang Tak Lagi Bisa Dipercaya
Selama bertahun-tahun, banyak dari kita menilai kualitas air hanya dari penampakannya: jernih berarti aman, keruh berarti tercemar. Padahal, logam berat seperti timbal, merkuri, atau kadmium yang lazim dibuang oleh sejumlah industri tanpa pengolahan limbah yang memadai justru tidak mengubah warna maupun aroma air secara signifikan.
Ia menyusup senyap, terakumulasi dalam tubuh ikan, sayuran yang disiram dengan air tersebut, hingga akhirnya singgah di piring makan kita.
BACA JUGA:Surabaya dan Kali Brantas yang Kelelahan: Satu Sungai untuk Tiga Juta Penduduk
BACA JUGA:Dropo Box, Solusi Kurangi Sampah Popok di Sungai Wringinanom Ala Ecoton
Karena itulah, laboratorium yang sering dianggap sekadar ruang steril dengan bau reagen menyengat sesungguhnya adalah garda terdepan yang menerjemahkan bahaya tak terlihat menjadi angka yang bisa dipahami dan ditindaklanjuti.
Uji parameter seperti kandungan logam berat, kadar oksigen terlarut, hingga keberadaan mikroplastik adalah cara sains ”menerjemahkan” bisikan racun tersebut ke dalam bahasa yang bisa dipahami pembuat kebijakan maupun masyarakat awam.
Betapa nyatanya persoalan itu terlihat dari catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sepanjang 2025: dari 4.482 titik pemantauan yang tersebar di 1.482 sungai di seluruh Indonesia, sekitar 70,7 persen di antaranya tidak lagi memenuhi baku mutu air, sebagian besar akibat cemaran logam berat dari sektor tekstil, sawit, dan pertambangan.
Bahkan, di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Papua Selatan, seluruh titik pantau yang diperiksa dinyatakan tercemar.
Ironisnya, penelitian jaringan pemerhati lingkungan Ecoton mencatat bahwa sekitar 80 persen masyarakat Indonesia justru menggantungkan kebutuhan air bersihnya pada air permukaan yang bersumber dari sungai-sungai tersebut.
Ironi di Balik Kemajuan Industri
Ironisnya, makin pesat sebuah kawasan berkembang secara industri, makin besar pula risiko sungai di sekitarnya menjadi tempat pembuangan yang tak kasatmata itu. Banyak pelaku usaha, terutama industri skala kecil dan menengah, yang kerap menganggap instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sebagai beban biaya, bukan kebutuhan mendasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: