Candu Gim Intai Anak-Anak (3-habis): Jarang Terjadi, Tapi Perlu Diwaspadai
MAIN BARENG menjadi aktivitas utama anak-anak masa kini tiap libur sekolah. Seperti terlihat di kawasan Gubeng pada Minggu, 4 Oktober 2026.-Muhammad Daffa Sultan Lakoro-Harian Disway
Kecanduan gim bisa terjadi pada siapa saja. Lewat intervensi pola asuh, kecanduan gim bisa ditekan. Butuh kerja sama orang tua, sekolah, lingkungan sekitar, dan pemerintah.
DATA Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 mencatat bahwa durasi bermain gim para pengguna internet di Indonesia yang paling banyak adalah 1-2 jam. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa mereka yang mengakses gim daring selama 4 jam tiap harinya sudah masuk kategori rawan kecanduan.
Dalam laporan terbarunya, APJII menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia yang setiap harinya mengakses gim daring selama 4 jam atau kecanduan mencapai 8 persen. Bukan angka yang besar, tapi rentang usianya memprihatinkan. Yakni, 11-18 tahun alias anak-anak dan remaja.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Menurut dr. Sista Diahlaksmi, Sp.KJ yang seorang psikiater di RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya, kemampuan mengontrol diri punya peran penting. Pada remaja, kemampuan itu dibentuk oleh lingkungan sosial dan pola asuh sejak kecil.
BACA JUGA:BNPT Temukan Pola Baru Radikalisasi Anak Melalui Media Sosial dan Game Online
BACA JUGA:Soal KPAI Desak Blokir Game Online, Ini Respon Menkominfo
Misalnya, mereka yang kurang mendapat reward atau apresiasi saat kecil, kini mencarinya sendiri lewat gim. “Saat memenangkan pertandingan, mendapat poin, atau naik level, mereka merasa mendapat penghargaan,” papar lulusan spesialis kedokteran jiwa Universitas Airlangga (Unair) itu saat ditemui Harian Disway pada 22 September 2026.
Gim seringkali membawa perasaan puas hati dan menjadi penghilang stres. Namun, tak jarang pula dijadikan pelampiasan emosi ketika merasa kesal dalam keseharian. Pada kasus ekstrem, seseorang bisa menyalurkan kemarahannya lewat gim tembak-tembakan sambil membayangkan sedang menembak "musuh" sungguhan.
Apabila kecanduan gim terjadi pada remaja dan dewasa muda, orang tua dan pihak keluarga wajib mendampingi dan memantau keadaannya selama proses terapi. Apalagi pada kasus kecanduan berat yang membutuhkan obat untuk mengontrol emosi. Orang terdekat harus memberi dukungan dan mengawasi kegiatan sehari-harinya di rumah.
"Kami tidak bisa menangani anak ini sendirian tanpa melibatkan orang yang tinggal di rumah. Jadi, kami juga memberikan edukasi dan ‘PR’ mengenai apa saja yang harus dilakukan keluarga selama perawatan di rumah," tutur Sista.
BACA JUGA:Lato-Lato Mendobrak Gempuran Game Online
BACA JUGA:Tiongkok Stop Sementara Pemberian Lisensi untuk Game Online Baru

MENATAP LAYAR dalam jangka waktu lama juga bisa berdampak pada kesehatan mata anak-anak. Screen time pada anak dan remaja harus dibatasi.-Muhammad Daffa Sultan Lakoro-Harian Disway
Dalam psikiatri, hal utama yang dibangun adalah hubungan antara dokter dan pasien (doctor-patient relationship). Terutama, pada anak-anak yang hubungannya kurang baik dengan orang tua di rumah. Psikiater harus menyampaikan bahwa tenaga medis hadir untuk membantu, bukan untuk memarahi atau menghakimi (non-judgmental).
Jika ada tanda-tanda seperti peningkatan waktu main gim yang diiringi penurunan fungsi sehari-hari (malas makan, malas mandi, tidak bersosialisasi) dan penurunan prestasi di sekolah, orang tua harus waspada.
"Orang tua dan siapa pun bisa membawa pasien dengan gejala kecanduan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Kalau menggunakan BPJS, harus ada rujukan dari Puskesmas atau klinik kesehatan tingkat pertama," jelas Sista.
Konsultasi awal juga bisa dilakukan secara gratis melalui program telekonsultasi "Ojo Bingung" oleh RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya. Pemeriksaan kecanduan biasanya dilakukan melalui wawancara terstruktur yang mendalam, baik kepada pasien maupun orang terdekatnya.
BACA JUGA:Anak Sering Berkelahi dan Kecanduan Game? Menhan Dukung Dedi Mulyadi Siapkan Pembinaan di Barak TNI
Dari sana baru bisa disimpulkan terkait adanya pola indikasi adiksi. Selanjutnya, psikiater membahas rencana penanganan di rumah dan siapa orang yang bisa mengawasi. Untuk segala prosedur terapi kecanduan, pihak profesional tetap membutuhkan persetujuan keluarga.
"Ketika terapi kecanduan gim berlangsung, tidak ada patokan pasti untuk durasi pengobatan karena itu bergantung pada tingkat keparahannya," ucap Sista.
Sementara itu, Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog, pakar psikologi sosial dan olahraga, mengatakan bahwa e-sport bisa menjadi hobi yang bermanfaat sekaligus meningkatkan risiko kecanduan.
"Yang perlu dilihat adalah tujuan bermain, kemampuan berhenti, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari," ujarnya pada 1 Oktober 2026. Secara psikologis, turnamen e-sport juga dapat membuat bermain terasa lebih bernilai karena ada prestasi, pengakuan, kelompok pertemanan, dan kemungkinan karier.
BACA JUGA:Gamers Cilik SDN Petemon 13 Surabaya Unjuk Gigi di Konjen Tiongkok Cup Mobile Legends 2026
BACA JUGA:Ateng Family Juara Konjen Tiongkok Cup Mobile Legends 2026

AKTIVITAS GIM menyita perhatian anak-anak. Sampai-sampai, mereka lupa waktu. Makan dan istirahat sering terabaikan. Demikian juga dengan tugas-tugas sekolah.-Boy Slamet-Harian Disway
"Ini dapat mendukung latihan yang terarah. Tetapi, pada orang yang rentan, pengakuan tersebut juga dapat menjadi alasan untuk terus bermain meskipun tidur, kuliah, atau pekerjaan mulai terganggu," tegasnya.
Meski demikian, Suryanto mengatakan bahwa penentuan kecanduan tak cukup dilihat dari bertambahnya durasi bermain belaka. "Polanya harus menyebabkan gangguan bermakna dalam kehidupan. Untuk diagnosis, biasanya diamati 12 bulan," ungkapnya.
Agar e-sport tepat sasaran, Suryanto menyarankan agar ada pembinaan soal batas waktu, istirahat, pengelolaan emosi, dan evaluasi tanggung jawab sehari-hari. Sebab, keberhasilan mengembangkan hobi perlu dinilai dari keterampilan dan kemampuan menjaga kehidupan tetap berjalan dengan baik. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: