BNPT Temukan Pola Baru Radikalisasi Anak Melalui Media Sosial dan Game Online

BNPT Temukan Pola Baru Radikalisasi Anak Melalui Media Sosial dan Game Online

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menemukan fakta terbaru dalam pola perekrutan terorisme atau paham radikal yang menargetkan anak-anak.-disway.id/Fandi Permana-

HARIAN DISWAY - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap temuan terbaru terkait pola perekrutan terorisme dan penyebaran paham radikal yang kini menyasar kelompok anak-anak melalui ruang digital, Selasa, 30 Desember 2025.

Kepala BNPT Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono memaparkan fakta tersebut dalam Rilis Akhir Tahun dan pernyataan pers 2025. Ia menegaskan bahwa proses radikalisasi tidak hanya menyasar pemuda, tetapi juga kelompok usia anak antara 10 hingga 17 tahun.

“Proses radikalisasi di samping terhadap pemuda, juga terhadap kelompok anak, kisaran 10 sampai 17 tahun, dan ini terus berkembang dan menjadi atensi kita bersama,” ujar Eddy dalam paparan akhir tahun di Jakarta.

Berdasarkan data BNPT, sepanjang 2025 aparat penegak hukum telah menindak 112 anak yang terindikasi terpapar paham radikal melalui berbagai platform media sosial. Kasus tersebut tersebar di 26 provinsi di Indonesia.

BACA JUGA:BNPT Gagalkan 27 Rencana Aksi Teror Sejak 2023 hingga September 2025

BACA JUGA:Pelantikan di Istana: Prabowo Resmikan Pimpinan BNN, BNPT, hingga Otorita Pantura

Selain itu, BNPT juga menyoroti fenomena baiat mandiri yang dilakukan oleh anak-anak tanpa kontak langsung dengan jaringan teroris. Eddy menyebut kondisi ini sebagai titik rawan sebelum masuk ke tahap awal keterlibatan lebih jauh dalam jaringan terorisme.

“Bahkan di antara mereka ada yang baiat sendiri, baiat mandiri. Ini titik sebelum tahap awal,” jelasnya.

Menurut Eddy, proses radikalisasi anak saat ini berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan pola konvensional. Jika sebelumnya membutuhkan waktu dua hingga lima tahun, kini radikalisasi dapat terjadi hanya dalam hitungan tiga hingga enam bulan akibat pengaruh algoritma platform digital.

“Sekarang dengan ruang digital hanya butuh tiga sampai enam bulan,” ungkapnya.

BACA JUGA:Pendamping 50 Napiter, Bambang Sugianto Dapat Penghargaan BNPT

BACA JUGA:Cegah Radikalisme, BNPT Andalkan Tokoh Agama

Paparan paham radikal tersebut terjadi melalui media sosial hingga game online yang memiliki fitur private chat dan voice chat. Eddy menyebut fenomena ini sebagai digital grooming, di mana pelaku terlebih dahulu membangun kedekatan emosional dengan korban sebelum menarik mereka ke dalam kelompok tertutup.

“Di situ dimainkan normalisasi perilaku, didoktrin tentang nilai-nilai ISIS, diajarkan bahwa demokrasi itu haram dan aparat itu thogut,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: