Candu Gim Intai Anak-Anak (2): Fitur Kontrol Masih Longgar
SEORANG IBU mengawasi buah hatinya yang bermain gim daring pada Minggu, 4 Oktober 2026. Sosok ibu diperagakan Nilam Mawardah.-Boy Slamet-Harian Disway
Antrean rawat inap pasien kecanduan gim di rumah sakit jiwa kian panjang. Pasiennya anak-anak, bahkan ada yang baru enam tahun. Aturan sudah ada, pengembang gim pun punya fitur kontrol. Tapi anak masih bisa bebas memilih sendiri.
UMUR enam tahun. Dirawat inap di rumah sakit jiwa. Itu cerita dokter spesialis kesehatan jiwa Sista Diahlaksmi, psikiater di RSD Prof dr Moeljono Surabaya (dulu RSJ Menur). Sista menangani para pecandu gim.
Anak enam tahun itu bukan satu-satunya. Ruang rawat anak di sana punya sekitar 12 tempat tidur. Hampir selalu penuh. Penghuninya kebanyakan pelajar kelas 5-6 SD dan SMP.
Namun, pasiennya sebetulnya beragam. Ada anak-anak hingga dewasa muda. Yang dirawat inap rata-rata berusia di atas 10 tahun. Dan ini bukan cerita Surabaya saja.
BACA JUGA:BNPT Temukan Pola Baru Radikalisasi Anak Melalui Media Sosial dan Game Online
BACA JUGA:Soal KPAI Desak Blokir Game Online, Ini Respon Menkominfo
Kementerian Kesehatan sendiri mencatat lonjakan pasien rumah sakit jiwa karena kecanduan gim dan judi online di berbagai daerah. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes dr Imran Pambudi mencatat ada sekitar 54 rumah sakit jiwa di Indonesia yang ikut menangani pasien yang kecanduan.
"Ini bukan hanya di Jawa Timur, tetapi hampir di semua daerah. Layanan rawat inap untuk kecanduan sudah overload, jadi harus mengantre jika ingin dirawat," tuturnya kepada awak media di Sarinah pada Februari 2026.
Data nasionalnya memang masih diverifikasi. Tapi Imran memastikan: tren naiknya sudah bisa terlihat. Pasien umumnya, pasien tidak menyadari mereka kecanduan. "Tapi, untuk kasus kecanduan gim pada remaja mulai 17 tahun itu, ada yang memang aware lalu datang sendiri untuk berkonsultasi," terang Sista.
Namun, yang seperti itu bisa dihitung jari. Selebihnya diantar keluarga. Bahkan dibawa paksa supaya mau diterapi ke psikiater. Keluhannya pun bukan soal lamanya main. Mereka sulit mengontrol emosi. Sulit lepas dari gim.
BACA JUGA:Lato-Lato Mendobrak Gempuran Game Online
BACA JUGA:Tiongkok Stop Sementara Pemberian Lisensi untuk Game Online Baru

PSIKIATER Sista Diahlaksmi menjelaskan tentang dampak kecanduan gim pada anak dari kacamata ahli jiwa kepada Harian Disway Kamis, 1 Oktober 2026.-Muhammad Daffa Sultan Lakoro-Harian Disway
Menurut Sista, gim yang punya tingkatan atau level, dan ada unsur kekerasan lebih rawan bikin candu. Perang-perangan. Tembak-tembakan. Dia lalu menyebut Mobile Legends dan Free Fire.
Kebetulan, dua gim itu itu juga yang paling banyak dimainkan. Data survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menguatkan itu. Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026 dilakukan pada 1 Februari-15 Maret 2026, melibatkan 8.700 orang di 38 provinsi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: