Ketika Trump Menjual 'Amerika'

Jumat 11-09-2026,21:07 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

Ancaman dulu. Tekanan. Negosiasi. Kompromi. Deal.

Indonesia berhasil menurunkan tarif yang sebelumnya diancamkan 32 persen menjadi 19 persen dan memperoleh pengecualian bagi lebih dari 1.800 produk, tetapi Jakarta juga memberikan konsesi besar dalam akses pasar, energi, pertanian, digital, dan mineral kritis.

Pelajarannya sederhana: dengan Trump, jangan terlalu sibuk mendengar kalimat pertama. Tunggu posisi tawar terakhir.

Ketiga: mineral kritis. Indonesia punya nikel. Amerika ingin mengurangi ketergantungannya terhadap rantai pasok Tiongkok. Trump sendiri telah mengarahkan pemerintahannya mencari kesepakatan dengan negara lain untuk mengamankan critical minerals daripada hanya mengandalkan produksi domestik.

Di sini Indonesia punya kartu. Tetapi, kartu hanya berguna kalau kita tahu nilainya. Jangan buru-buru meletakkannya di meja.

Keempat: geopolitik Indo-Pasifik. Jika AS terus tersedot ke Iran, kapasitas politik, militer, amunisi, dan perhatian strategis Washington akan terbagi. Bagi Indonesia, pertanyaannya kemudian menyentuh Laut China Selatan, Natuna, ASEAN, dan keseimbangan AS-Tiongkok.

Washington yang terlalu sibuk di Teluk dapat memberikan ruang strategis lebih besar kepada Beijing di Asia. Sebaliknya, AS yang ingin mengimbangi Tiongkok akan membutuhkan Indonesia lebih besar lagi.

Maka, Jakarta jangan menjadi penonton. Indonesia harus menjadi swing state strategis yang punya harga. Tidak anti-AS. Tidak anti-Tiongkok. Tetapi, pro-kepentingan Indonesia.

Saya akhirnya membayar lumpia. Pak Kadek menghitung uangnya. Tidak ada Trump Dividend. Tidak ada tarif. Tidak ada fake news.

Transaksinya sederhana. Di situ saya paham satu hal: dalam politik, kulit yang renyah memang membuat orang ingin mencicipi. Tetapi, cepat atau lambat, orang akan membuka dan melihat seluruh isinya.

Donald Trump sangat menguasai seni membuat orang bermimpi. Pemilu November nanti menunjukkan pertanyaan berikutnya: apakah mayoritas orang AS masih menyukai rasanya? (*)

 

Kategori :