Pak Kadek menjual lumpia: ”Beli lima, bonus satu.” Trump menjual: ”Menangkan House dan Senate, dapat USD5.000.”
Bedanya, Pak Kadek sudah menghitung harga tepung. Washington masih harus menghitung anggaran lagi.
Trump Sebenarnya Mau Apa?
Kalau semua kalimat Trump di Dallas disaring dari tepuk tangan, lelucon, serangan terhadap Demokrat, dan cerita mengenai dirinya sendiri, saya melihat tiga sasaran utama.
Pertama, menyelamatkan mayoritas Republik pada 3 November. Itu yang paling mendesak. Trump tahu pemilih yang datang memilih dirinya dalam presidential election belum tentu datang dalam midterm.
Karena itu, ia berkata: anggap saya ada di surat suara. Trump sedang meminjamkan dirinya kepada kandidat Republik.
Kedua, mempertahankan dirinya sebagai pusat gravitasi Partai Republik. Trump tidak mau menjadi presiden yang hanya tinggal dua tahun lagi. Ia ingin seluruh partai tetap berputar di orbitnya.
Menang karena Trump. Berkampanye bersama Trump. Membela kebijakan Trump. Meneruskan agenda Trump. Dengan demikian, bahkan setelah ia tidak lagi berada di surat suara, trumpisme tetap menjadi infrastruktur politik.
Ketiga, dan ini paling penting: Trump sedang membangun narasi warisan. Builder. Deal-maker. Border president. Tariff president. Wartime president. Peacemaker.
Trump ingin semuanya sekaligus. Sebab itulah, bahkan selat pun akhirnya ingin diberi namanya.
Apa Urusannya dengan Indonesia?
Banyak. Indonesia tidak punya suara dalam pemilu AS. Tetapi, Indonesia punya kepentingan terhadap hampir semua yang sedang dibicarakan Trump.
Pertama: energi. Sekitar 20–25 persen kebutuhan crude Indonesia masih terkait pasokan dari kawasan Teluk Persia menurut keterangan pemerintah pada awal konflik. Gangguan berkepanjangan di Hormuz berarti Indonesia menghadapi risiko harga impor energi, subsidi, ongkos transportasi, inflasi, dan akhirnya tekanan fiskal.
Jadi, ketika Trump mengatakan: ”We’re winning.” Jakarta jangan ikut tepuk tangan dulu. Jakarta perlu melihat harga Brent. Sebab, bagi Indonesia, ukuran kemenangan bukan berapa banyak kapal Iran dihancurkan.
Pertanyaannya: berapa harga minyak yang harus kita bayar?
Kedua: perdagangan. Kesepakatan tarif Indonesia-AS tahun 2026 memperlihatkan bagaimana pemerintahan Trump bernegosiasi.