Namanya menarik. KRI Wahidin memang dikenal sebagai Pacific Warrior dan berada di bawah jajaran Koarmada III di Sorong. Pasifik bukan kawasan asing bagi kapal ini.
Pembayaran bisa menggunakan QRIS. Tetapi bagaimana kalau tidak ada sinyal? Seorang perwira menjawab santai, “Kasbon.”
Kami tertawa. Ia kemudian menambahkan, “Sebelum sandar harus dilunasi.”
Diplomasi pertama kami dengan kantin berjalan lancar.
BACA JUGA:Angkat Maraknya Kekerasan Seksual, Untag Tayangkan Film Kita yang Menulis Cerita
BACA JUGA:Semangat Kemerdekaan, Untag Surabaya Revitalisasi Perpustakaan Sanggar Theosofi
Hari-hari pertama juga menjadi masa untuk mengenali ritme kapal. Ada suara mesin, pintu yang dibuka-tutup, langkah kaki, ombak, dan pengumuman melalui pengeras suara.
Kami makan bersama di lounge perwira. Menunya sederhana: nasi, lauk, sayur, tempe, tahu, telur. Tetapi makan siang terasa berbeda ketika dilakukan di sebuah rumah yang sedang bergerak menuju Jakarta.
Di tengah suasana itu, pembagian peran di antara kami berlima mulai terbentuk secara alami. Rizkya Dwijayanti, dosen yang juga alumnus Ilmu Politik Universitas Airlangga, sibuk dengan rancangan produksi konten. Ludfi banyak menangkap sisi visual. Salman Alfarisi dari Fakultas Hukum mulai merancang luaran-luaran. Demikian pula Yuniar Dwi Putri yang menjadikan perjalanan itu sebagai pengganti (konversi) sejumlah perkuliahan. Saya sendiri menulis dan mendokumentasikan perjalanan.
Kami juga kerap berdiskusi di dek. Tentang diplomasi, politik luar negeri, empat negara yang akan kami kunjungi, dan apa yang mungkin kami temukan di sana.
Kami juga menyadari bahwa orang-orang di kapal ini akan menjadi bagian penting dari perjalanan. Komandan Benedictus mengingatkan agar kami tidak sekadar mencari kenalan, tetapi mencari teman. Sebab, ketika kapal nanti penuh, kami akan bekerja bersama orang-orang dari militer, kementerian, tenaga kesehatan, akademisi, mahasiswa, dan berbagai unsur lainnya.
SLAMETAN seluruh awak KRI WSH-991 sebelum berangkat meninggalkan Surabaya, Jumat 11 September 2026.-Dok. DOAN WIDHIANDONO-
Masing-masing membawa keahlian. Masing-masing punya cara kerja. Tugas kami adalah menemukan titik temu.
Sore mulai turun ketika kapal terus bergerak. Sesekali badan kapal terasa miring. Tidak banyak, tetapi cukup membuat tubuh belajar menyesuaikan diri.
Kolonel Cahyo sebelumnya sudah mengingatkan bahwa laut Pasifik berbeda. Gelombangnya bisa berubah. Anginnya bisa kuat. Laut tidak pernah sepenuhnya bisa ditebak.
Kami sepakat.