Menagih Aksi Perempuan Berdaya

Selasa 06-10-2026,07:33 WIB
Oleh: Ida N. Chasanah & Jani Purnawanty*

DI hadapan lorong-lorong birokrasi yang dingin dan kaku, kita sering kali berdiri membawa masalah nyata dari lapangan. Ada berita korupsi yang tak kunjung usai, jerat judol yang merusak masa depan keluarga, hingga tingginya angka perceraian. Pada saat seperti itu, hukum buatan manusia kerap bekerja sebatas aturan formal dan angka, sering kali lupa menghadirkan rasa empati, cinta, serta kedekatan dengan Sang Pencipta. 

Di sana kita kerap menyaksikan bagaimana aturan buatan manusia bekerja secara kaku dan mekanis. Birokrasi sering kali hanya melihat masyarakat sebagai nomor antrean atau data statistik, tanpa pernah menyentuh rasa empati, apalagi menghadirkan kepasrahan dan sujud kepada Sang Maha Pencipta. 

Ketika seorang warga miskin mengurus bantuan sosial atau korban kejahatan menuntut keadilan, mereka sering kali terbentur oleh tembok prosedur yang tidak punya hati.

BACA JUGA:Perempuan NU, Kepemimpinan, dan Pintu yang Belum Terbuka

BACA JUGA:Bangkitnya Kartini Melawan Bedil: Momentum Perempuan Melawan Militerisme di Orde Paling Baru

Namun, para muslimah, yang tergabung dalam wadah Perempuan ICMI Jatim, kini menolak untuk sekadar menjadi penonton yang pasif dan meratapi keadaan di balik pintu rumah. Muslimah bukanlah sekadar pelengkap formalitas di panggung seminar, bukan pemanis foto dalam laporan tahunan, dan bukan pula sekadar komoditas pemilih yang suaranya dicari setiap menjelang pemilu lalu dilupakan setelahnya. 

Kita adalah jiwa-jiwa yang bergerak atas dasar kesadaran firman Allah SWT, sebuah nyala terang di tengah labirin kehidupan modern yang kian rapuh.

Melalui wadah seperti Perempuan ICMI Jatim, para perempuan tergerak oleh panggilan moral yang dalam. Kita tidak cukup hanya berpasrah atau saling melempar keluhan di media sosial. Lebih dari itu, kita harus bergerak melangkah nyata untuk membongkar akar masalah publik dan mengawal tatanan kehidupan menuju arah yang lebih baik.

Menatap Wajah Kritis Bangsa lewat Lensa Kebijakan

Jika kita menatap realitas bangsa hari ini dengan mata hati yang jernih, tampak jelas betapa lebarnya jarak antara nilai-nilai keagamaan yang kita gaungkan di mimbar dan kenyataan hidup sehari-hari. Angka Indeks Persepsi Korupsi yang stagnan menggambarkan betapa rapuhnya kejujuran di ruang-ruang publik. 

BACA JUGA:Gerakan Perempuan: Barikade Terakhir di Tengah Kemunduran Demokrasi

BACA JUGA:Peran Kepemimpinan Perempuan yang Inklusif

Kita menyaksikan bagaimana anggaran pembangunan sekolah, fasilitas kesehatan, hingga dana bantuan bencana tak jarang disunat oleh oknum yang kehilangan rasa takut kepada Allah.

Di saat yang sama, badai perceraian terus menerjang ketahanan keluarga. Di daerah seperti Jawa Timur dan berbagai wilayah Indonesia lainnya, ribuan pasangan suami istri berpisah setiap bulan. Konflik finansial, hilangnya rasa saling menghormati, hingga godaan media sosial menjadi pemicu keretakan yang mengorbankan masa depan anak-anak. 

Kondisi itu makin diperparah oleh maraknya jerat judi online, dan pinjaman online ilegal. Bayangkan, seorang ayah yang menghabiskan upah harian hasil menambang atau bertani hanya untuk mengadu nasib di aplikasi judi atau seorang ibu rumah tangga yang terpaksa berutang pada aplikasi pinjol berbunga mencekik demi membeli beras dan membayar SPP anak. 

Kategori :