Menagih Aksi Perempuan Berdaya

Selasa 06-10-2026,07:33 WIB
Oleh: Ida N. Chasanah & Jani Purnawanty*

Akibat tekanan tersebut, tidak sedikit keluarga yang berakhir tragis dalam lingkaran kekerasan atau keputusasaan.

Sayangnya, sebagian besar kebijakan pemerintah selama ini masih bersifat sementara dan sekadar mengobati gejala di permukaan. Pemerintah mungkin giat memblokir ribuan situs judi atau membagikan paket sembako menjelang hari raya, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menutup celah hukum, menindak pengusaha judi kelas atas, atau menyediakan tatanan ekonomi yang adil. 

Pendekatan itu ibarat terus-menerus menempelkan plester pada luka borok yang infeksinya sudah menjalar ke dalam darah. Kita tidak akan pernah sembuh jika hanya sibuk membalut gejala tanpa berani memotong sumber penyakitnya.

Akar dari segala krisis ini bermuara pada cara pandang hidup yang terlalu mengagungkan materi dan menanggalkan panduan agama dari ruang publik. Ketika ukuran keberhasilan suatu daerah hanya dihitung dari pertumbuhan angka ekonomi, tanpa peduli apakah uang itu mengalir dari bisnis haram atau eksploitasi rakyat, kerusakan moral dan lingkungan tinggal menunggu waktu. 

Rasionalitas Wahyu sebagai Petunjuk Hidup Peradaban

Sebagai Sang Maha Pencipta sekaligus Maha Pengatur, Allah SWT adalah pihak yang paling tahu tentang cara kerja terbaik bagi manusia. Ketika produsen mobil menciptakan kendaraan, mereka menyertakan buku panduan resmi agar mobil tersebut tidak cepat rusak atau mengalami kecelakaan. 

Demikian pula dengan manusia. Syariat Islam diturunkan tidak untuk mengekang atau menyusahkan kehidupan, tetapi hadir sebagai panduan navigasi utama agar kita tidak tersesat di tengah rumitnya persoalan ekonomi, politik, dan sosial.

Atas dasar itulah, keberdayaan muslimah tidak sepantasnya diecer hanya demi mengekor tren emansipasi sekuler, yang sering kali mendorong perempuan untuk mengejar karier dan materi dengan mengabaikan peran keluarga serta nilai ketakwaan. 

Keberdayaan sejati tumbuh dari akal sehat yang senantiasa dipandu oleh wahyu. Dari kekhusyukan sajadah di sepertiga malam, seorang muslimah menimba kekuatan batin dan meluruskan niatnya. Namun, cahaya ketaatan itu tidak boleh berhenti di dalam dinding rumah semata. 

Seorang ibu yang bijak tidak hanya memastikan anak-anaknya senantiasa melaksanakan salat, tetapi juga peduli apakah jajanan di sekolah anaknya aman, apakah lingkungan sekitar bebas dari pergaulan bebas, dan apakah aturan di sekitar/ lingkungannya melindungi kaum perempuan. Kebaikan pribadi harus melimpah keluar menjadi aksi nyata untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran di ruang publik.

Sebagaimana dijelaskan Prof Mas Roro Lilik Ekowanti dalam Pra Raker Pengurus DPW Perempuan ICMI, Kamis, 24 September 2026, di Surabaya, untuk para cendekiawan muslimah dalam turut serta membangun peradaban yang kokoh, diperlukan sinergi di tiga tingkatan kehidupan. 

Pertama, pada tingkat individu. Ketakwaan pribadi menjadi fondasi utama. Contohnya adalah seorang pegawai negeri yang menolak amplop suap karena sadar Allah Maha Melihat atau seorang ibu yang dengan sabar menanamkan kejujuran kepada anak-anaknya sejak dini.  

Kedua, pada tingkat masyarakat. Ketaatan individu itu harus mengalir menjadi kontrol sosial yang hidup. Misalnya, ketika warga sebuah RT/RW kompak menolak keberadaan tempat maksiat di lingkungan mereka atau tetangga yang saling membantu ketika ada warga yang terlilit kesulitan ekonomi agar tidak terjerat lintah darat. 

Ketiga, pada tingkat negara. Perjuangan itu harus bermuara pada hadirnya kebijakan publik yang memihak rakyat. Pemerintah harus menggunakan otoritas hukumnya untuk menutup celah kejahatan. 

Misalnya, membuat undang-undang yang tegas memblokir judi online, menyediakan pendidikan gratis yang berbasis akhlak, serta menjamin lapangan kerja yang layak. Sebagaimana janji Allah dalam surah Al-A’raf ayat 96, keberkahan dari langit dan bumi hanya akan tercurah apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa secara kolektif.

Menatap Peran Perempuan ICMI 

Kategori :