Refleksi Hari Kesehatan Mental Sedunia: Kita yang Lupa Mendengar

Sabtu 10-10-2026,05:34 WIB
Oleh: Andria Saptyasari*

Perkembangan teknologi komunikasi membuat masyarakat mempunyai lebih banyak ruang untuk menyampaikan pikiran. Media sosial memungkinkan siapa pun menulis, berkomentar, merekam video, mengunggah pengalaman, maupun memberikan penilaian terhadap suatu peristiwa.

Ruang komunikasi menjadi makin luas. Kecepatan respons pun meningkat. Namun, masyarakat yang makin mudah berbicara belum tentu makin terampil mendengarkan.

BACA JUGA:Kesehatan Mental di Tempat Kerja Jadi Sorotan: Ini Tips agar Tidak Mudah Stres

BACA JUGA:Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Ekonomi: Ketika 'Mental Kuat' Tak Lagi Cukup

Karakter komunikasi digital justru sering membentuk kebiasaan untuk segera bereaksi. Sebuah cerita baru disampaikan sebagian, komentar sudah bermunculan. Sebuah keluhan belum dipahami secara utuh, penilaian sudah diberikan.

Orang yang sedang sedih dapat dianggap terlalu sensitif. Mereka yang sedang mengalami tekanan disebut kurang bersyukur. Seseorang yang berani mengungkapkan kecemasan bahkan dapat dituduh mencari perhatian.

Kebiasaan semacam itu memperlihatkan bahwa komunikasi bukan hanya perkara tersampaikannya pesan. Komunikasi juga berkaitan dengan kemampuan memberikan ruang kepada orang lain untuk menyelesaikan ceritanya.

Dalam konteks kesehatan mental, ruang semacam itu menjadi sangat penting. Tidak setiap orang yang bercerita sedang mencari jawaban. Tidak semua persoalan membutuhkan solusi seketika. Dalam banyak keadaan, seseorang terlebih dahulu membutuhkan rasa bahwa persoalannya didengar dan keberadaannya dihargai.

BACA JUGA:World Mental Health Day: Cuaca Panas dan Kesehatan Mental Kita

BACA JUGA:Judi Online Mengancam Kesehatan Mental

Teknik Menasihati

Salah satu kebiasaan dalam komunikasi sehari-hari adalah kecenderungan untuk segera memberikan nasihat. Ketika seorang anak bercerita tentang masalah di sekolah, orang tua segera memberikan penjelasan panjang. 

Ketika teman sedang mengalami tekanan pekerjaan, respons yang muncul justru perbandingan dengan orang lain yang dianggap mempunyai persoalan lebih berat.

Semua itu mungkin berangkat dari niat membantu. Namun, komunikasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh niat. Cara dan waktu menyampaikan respons juga ikut menentukan apakah seseorang merasa dipahami atau justru dihakimi.

Nasihat yang diberikan terlalu cepat dapat menutup percakapan. Kalimat seperti ”jangan terlalu dipikirkan”, ”kamu harus lebih kuat”, ”orang lain lebih susah”, atau ”dari dulu sudah diingatkan” sering dianggap biasa. Padahal, bagi seseorang yang sedang mencoba terbuka, respons semacam itu dapat menimbulkan kesan bahwa persoalannya dianggap tidak cukup penting.

BACA JUGA:Layanan Kesehatan Mental untuk Setiap Organisasi

Kategori :