Refleksi Hari Kesehatan Mental Sedunia: Kita yang Lupa Mendengar

Sabtu 10-10-2026,05:34 WIB
Oleh: Andria Saptyasari*

BACA JUGA:Merawat dan Meruwat Kesehatan Mental

Mendengarkan tidak berarti membenarkan seluruh tindakan seseorang. Mendengarkan juga bukan berarti solusi tidak diperlukan. Tetapi, yang perlu diperhatikan adalah urutannya.

Memahami seharusnya datang sebelum menilai dan mendengarkan sebaiknya mendahului nasihat. Perubahan sederhana dalam pola komunikasi dapat menciptakan suasana yang berbeda. 

Pertanyaan ”kenapa kamu melakukan itu?” dapat diubah menjadi ”apa yang sebenarnya terjadi?” Kalimat ”jangan dipikirkan” dapat diganti dengan ”apa yang paling membuatmu merasa berat?”

Pilihan kata memang tampak sederhana. Namun, bagi orang yang sedang mengalami tekanan, perbedaannya dapat sangat bermakna.

Rumah Belum Tentu Menjadi Ruang Aman

Keluarga sering dianggap sebagai tempat pertama bagi seseorang untuk bercerita. Idealnya memang demikian, teapi kedekatan hubungan tidak otomatis menjadikan sebuah ruang aman secara komunikasi.

Ada anak yang lebih nyaman bercerita kepada teman karena takut dimarahi orang tua. Ada anggota keluarga yang memilih menyimpan masalah karena khawatir ceritanya akan tersebar. Ada pula yang enggan berbicara karena pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa setiap cerita selalu berakhir menjadi ceramah.

Keamanan dalam komunikasi dibangun melalui kepercayaan. Ketika seseorang bercerita, ia tidak sekadar menyampaikan informasi. Ia sedang memperlihatkan bagian dirinya yang mungkin paling rapuh.

Karena itu, kemampuan menjaga kerahasiaan, tidak mempermalukan, serta tidak menjadikan cerita pribadi sebagai bahan percakapan merupakan bagian penting dari etika mendengarkan.

Ruang aman tidak selalu membutuhkan tempat khusus. Ruang aman dapat hadir di meja makan, ruang kerja, kelas, kendaraan, atau percakapan sederhana antarteman. Ruang yang menjadikannya aman bukan tempatnya, melainkan sikap orang-orang di dalamnya.

Mendengar sebagai Bentuk Kepedulian

Tentu mendengarkan bukan pengganti pertolongan profesional. Kondisi kesehatan mental tertentu tetap membutuhkan bantuan psikolog, psikiater, konselor, atau tenaga kesehatan.

Justru kemampuan mendengarkan juga berarti mengetahui batas. Orang di sekitar tidak perlu mengambil peran sebagai terapis. Yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk mengenali ketika seseorang memerlukan bantuan lebih lanjut dan mendukungnya memperoleh layanan yang sesuai.

Kesehatan mental memang membutuhkan sistem pelayanan yang kuat. Akses terhadap tenaga profesional perlu diperluas. Literasi masyarakat harus terus ditingkatkan. Stigma juga masih harus dikurangi. Namun, upaya itu akan lebih bermakna apabila disertai perubahan pada kebiasaan komunikasi sehari-hari.

Kita telah mempunyai begitu banyak ruang untuk berbicara. Setiap orang dapat membuat status, komentar, video, atau pendapat kapan saja. Barangkali persoalan masyarakat hari ini bukan kekurangan orang yang ingin berbicara. Kini yang mulai langka justru orang yang bersedia mendengarkan sampai selesai.

Kategori :