SETIAP 10 Oktober, Hari Kesehatan Mental Sedunia kembali mengingatkan publik pada pentingnya menjaga kesehatan psikologis. Pesan tentang self-care, keberanian mencari pertolongan, dan pentingnya bercerita makin mudah ditemukan, terutama di media sosial.
Ajakan semacam itu tentu penting, tetapi ada satu persoalan yang sering luput dari perhatian. Yakni, ketika seseorang akhirnya berani bercerita, apakah lingkungan di sekitarnya sudah cukup siap untuk mendengarkan?
Pertanyaan itu menjadi penting karena keberanian berbicara tidak selalu bertemu dengan ruang komunikasi yang aman. Seseorang dapat memiliki keluarga, teman, sekolah, tempat kerja, bahkan ratusan kontak di telepon genggam.
Akan tetapi, banyaknya relasi tidak otomatis berarti tersedianya orang yang mampu mendengarkan tanpa tergesa-gesa menilai, memberikan nasihat, atau membandingkan persoalan yang sedang dihadapi.
BACA JUGA:Alarm Keras Kesehatan Mental: Kasus Percobaan Bunuh Diri Gen Z di Jatim Meningkat
BACA JUGA:Chevalier Inc, Komunitas Penggerak Kesehatan Mental dengan Terapi Holistik dan Kreativitas
Di sinilah kesehatan mental perlu ditempatkan tidak semata-mata sebagai persoalan individu. Ada lingkungan sosial yang ikut menentukan apakah seseorang merasa diterima, dipahami, atau justru memilih diam.
Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental di kalangan remaja bukan sesuatu yang dapat dianggap ringan.
Sekitar satu dari tiga remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental dalam kurun waktu tertentu, sementara sebagian di antaranya mengalami gangguan mental yang membutuhkan perhatian lebih serius.
Angka tersebut tidak hanya berbicara tentang kebutuhan layanan psikologis dan medis. Di baliknya terdapat persoalan keluarga, pendidikan, pertemanan, tekanan akademik, relasi kerja, penggunaan media digital, perundungan, hingga kesulitan seseorang menemukan ruang yang aman untuk berbicara.
BACA JUGA:Friendship Cleanse, Tren Menyaring Pertemanan Demi Kesehatan Mental
BACA JUGA:Roblox Tambah Fitur-Fitur Baru untuk Mendukung Kesehatan Mental Pengguna
Pelayanan kesehatan jiwa juga memperlihatkan bahwa persoalan mental memiliki dimensi sosial yang kuat. Keluhan psikologis hampir tidak pernah berdiri sendiri. Sering kali ada rangkaian pengalaman sosial yang melatarbelakanginya.
Karena itu, menjaga kesehatan mental seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan seseorang mengelola dirinya sendiri. Lingkungan yang mampu mendengarkan juga merupakan bagian penting dari ekosistem kesehatan mental.
Ruang Komunikasi yang Meluas