Manifesto Musik dalam Teater
Ilustrasi musik dalam teater.-AI-
KAMI percaya bahwa musik dalam teater bukan semata unsur pendukung pertunjukan. musik bukan dekorasi suara. Bukan ilustrasi adegan. Juga bukan alat untuk memperindah suasana panggung.
Musik adalah keberadaan artistik. Ia memiliki hak untuk berbicara.
Selama ini, musik dalam teater kerap ditempatkan sebagai elemen yang mengikuti kebutuhan aktor. Ia masuk ketika suasana membutuhkan ketegangan. Hadir ketika adegan membutuhkan kesedihan.
Lalu berhenti ketika dialog dianggap telah selesai. Musik seolah-olah tidak memiliki kehidupan di luar kebutuhan dramatik aktor.
BACA JUGA:Menyaksikan Totalitas Seniman Teater Prancis Succursale 101 dalam Petit Bleu et Petit Jaune
BACA JUGA:Teater Kolosal Merah Putih Bertanya Ingatkan Generasi Muda pada DNA Surabaya, Pejuang dan Pemberani
Kami ingin mempertanyakan cara pandang tersebut. Musik dalam teater adalah aktor dengan bahasa dialognya sendiri.
Jika aktor berbicara melalui tubuh, gerak, ekspresi, dan kata-kata, maka musik berbicara melalui bunyi, nada, ritme, tempo, harmoni, disonansi, repetisi, dan keheningan.
Keduanya memiliki bahasa yang berbeda. Tetapi memiliki hak yang sama untuk menyampaikan gagasan di atas panggung.
1. Musik Memiliki Hak Bicara
Musik tidak harus selalu mengikuti dialog aktor. Ia boleh hadir sebelum aktor berbicara, ketika aktor berbicara, bahkan setelah seluruh aktor meninggalkan panggung.
Musik memiliki hak untuk memulai sebuah peristiwa, menginterupsi sebuah peristiwa, dan mengakhiri sebuah peristiwa.
Musik tidak harus menjadi bayangan aktor. Ia dapat berdiri sebagai kehadiran yang mandiri.
2. Musik Bukan Sekadar Pembentuk Suasana
Kami menolak pembatasan musik hanya sebagai pembangun suasana dan penguat emosi. Musik harus mampu berbicara tentang persoalan yang sedang dipertunjukkan.
Ketika teater berbicara tentang kekuasaan, musik harus memiliki kemungkinan untuk mempersoalkan kekuasaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: