Manifesto Musik dalam Teater
Ilustrasi musik dalam teater.-AI-
Sebab, musik yang lahir dari pemikiran akan memiliki kedalaman yang berbeda. Dibandingkan musik yang hanya lahir dari permintaan suasana.
7. Musik Harus Memiliki Sikap
Setiap karya teater membawa persoalan. Baik persoalan personal, sosial, politik, kebudayaan, maupun kemanusiaan.
Musik tidak harus bersikap netral terhadap persoalan tersebut.
Ia dapat menjadi suara yang menggugat, mengingatkan, mengkritik, menyindir, atau bahkan menolak kenyataan yang sedang dipertontonkan.
Musik dapat menjadi suara mereka yang tidak memperoleh kesempatan berbicara melalui dialog. Di situlah musik memiliki kemungkinan menjadi kekuatan pemikiran dan keberpihakan artistik.
Memerdekakan Musik di Atas Panggung
Kami tidak sedang berusaha menghilangkan fungsi musik sebagai pembangun suasana atau penguat emosi. Kami hanya ingin membuka wilayah yang lebih luas bagi keberadaan musik dalam teater.
Kami ingin musik tidak lagi sekadar mengikuti. Tetapi juga memimpin. Tidak sekadar mengiringi. Tetapi juga menyampaikan. Tidak sekadar memperkuat dialog. Tetapi juga menciptakan dialog baru.
Kami ingin melihat aktor dan musik sebagai dua keberadaan artistik yang saling berhadapan, saling mendengar, saling menanggapi, dan terkadang saling bertentangan.
Sebab, teater bukan hanya peristiwa manusia yang berbicara di atas panggung. Teater adalah pertemuan berbagai bahasa.
Masing-masing memiliki kemungkinan untuk mengungkapkan kenyataan dari sudut pandang yang berbeda.
Maka, bebaskan musik dari kedudukannya sebagai pelengkap. Berikan kepadanya ruang, suara, pikiran, dan keberpihakan.
Karena musik bukan hanya sesuatu yang terdengar ketika aktor bermain. Musik adalah aktor. Musik adalah dialog. Musik adalah peristiwa. (*)
*) Pegiat seni teater di Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: