Manifesto Musik dalam Teater

Manifesto Musik dalam Teater

Ilustrasi musik dalam teater.-AI-

Ketika teater berbicara tentang ketidakadilan, musik tidak cukup hanya menghadirkan kesedihan. Tetapi harus mampu mengungkapkan ketidakadilan itu melalui bahasa bunyinya.

Musik bukan hanya membuat penonton merasakan sesuatu. Musik juga harus membuat penonton berpikir tentang sesuatu.

3. Musik Boleh Berbeda, Bahkan Bertentangan

Kami percaya bahwa keselarasan bukan satu-satunya jalan menuju keutuhan artistik.

Musik boleh bertentangan dengan dialog aktor. Musik boleh menghadirkan kegelisahan ketika aktor sedang bergembira. Musik boleh menyampaikan kemarahan ketika aktor sedang berbicara tentang kedamaian.

Pertentangan tersebut bukan kesalahan artistik. Justru di dalam pertentangan itulah dapat lahir makna baru.

Panggung tidak harus selalu menyajikan kesepakatan. Panggung juga dapat menjadi ruang perdebatan berbagai bahasa.

4. Musik Memiliki Dramaturgi Sendiri

Musik harus memiliki struktur pemikiran dan perjalanan dramatiknya sendiri.

Ia dapat membangun konflik, menghadirkan kejutan, menciptakan ketegangan, melakukan pengulangan, mematahkan ritme, bahkan menciptakan klimaks tanpa harus bergantung pada tindakan aktor.

Musik tidak selalu harus menunggu adegan. Terkadang musiklah yang menciptakan adegan. Maka, komposisi musik bukan hanya persoalan memilih nada dan instrumen. Tetapi juga persoalan membangun peristiwa.

5. Bunyi Adalah Realitas

Kami membuka kemungkinan. Bahwa segala sesuatu dapat menjadi sumber bahasa musikal dalam pertunjukan teater.

Suara mesin, langkah kaki, benturan benda, napas manusia, suara jalanan, teriakan, kebisingan kota, hingga keheningan. Itu semua dapat menjadi bagian dari komposisi.

Musik tidak harus selalu berasal dari instrumen yang lazim disebut alat musik.

Sebab, kehidupan itu sendiri telah menghasilkan begitu banyak bunyi. Masing-masing menyimpan persoalan, sejarah, dan pengalaman manusia.

6. Pemusik Bukan Sekadar Pelaksana Instruksi

Pemusik dan komposer harus menjadi bagian dari proses penciptaan gagasan pertunjukan sejak awal. Mereka bukan sekadar orang yang dipanggil ketika sutradara membutuhkan musik untuk adegan tertentu.

Mereka harus memiliki ruang untuk membaca naskah, memahami konflik, mengajukan tafsir, dan menawarkan gagasan artistik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: