David melihat Indonesia memiliki peluang besar untuk berperan lebih kuat dalam industri teknologi global.
Namun, potensi tersebut harus ditopang penguatan kemampuan rekayasa, riset, pengembangan produk, keamanan, pemasaran internasional, dan kewirausahaan.
Ia menilai hubungan antara pendidikan, penelitian, industri, dan pendanaan masih perlu diperkuat.
Sehingga talenta Indonesia memperoleh kesempatan mengembangkan solusi berdasarkan persoalan nyata.
BACA JUGA:Bisnis Makanan dari Ubi Jalar Kian Dilirik, Camilan Tradisional Naik Kelas
Menurut David, tantangan lokal justru dapat menjadi sumber inovasi yang bernilai internasional.
Persoalan distribusi, layanan lapangan, manufaktur, dan pengelolaan usaha dapat melahirkan solusi yang relevan bagi pasar lain. Itu apabila dikembangkan dengan standar produk yang baik.
Melalui perannya sebagai pengusaha dan pengajar di Universitas Kristen Petra Surabaya, ia ingin mendorong pola belajar yang menghubungkan identifikasi masalah, pengembangan produk, pemahaman pelanggan, dan keberlanjutan usaha.
Bagi David, kemampuan membangun teknologi tidak berhenti pada keberhasilan menciptakan produk.
BACA JUGA:Bisnis Dessert Box Mini, Cara Mulai Usaha Kue Rumahan dengan Modal 100 Ribu
BACA JUGA:Stok Terbatas Jadi Andalan Pebisnis Gaet Konsumen
Teknologi perlu benar-benar digunakan, dipercaya, dan memberikan dampak yang dapat dirasakan.
Menatap Lima hingga Sepuluh Tahun ke Depan
Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, David memperkirakan AI akan semakin terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari perusahaan.
Sistem AI berpotensi membantu membaca kondisi usaha, menyusun alternatif tindakan, dan menjalankan pekerjaan tertentu berdasarkan batas kewenangan yang telah ditetapkan.
Namun, tingkat adopsinya akan berbeda-beda. Bergantung pada kesiapan data, biaya, risiko, dan karakter industri.