Pasar Pabean menjadi tempat bagi komoditas-komoditas terkenal di Surabaya. Seperti ikan, bawang merah, bawang putih, kain, dan kerudung yang mengikuti permintaan pasar.
BACA JUGA:Digitalisasi Parkir Kota Surabaya dalam Bingkai Sustainability Development
BACA JUGA:Ketika Pagar Menjadi Bahasa Kota, Selamat Datang, Arsitektur Ketakutan!
Pasar Pabean tumbuh menjadi pasar yang besar. Jumlah pedagang membludak. Juga kebutuhan akan gudang yang dekat dengan pasar.
Kondisi tersebut otomatis meningkatkan pembelian rumah warga yang dijadikan gudang atau toko pada 1990-an.
Kondisi semakin masif ketika terjadi kebakaran di Pasar Pabean. Pasca kebakaran, beberapa kios pedagang pindah ke kios darurat di Jalan Pabean Sayangan.
Pasar kemudian berbaur dengan kampung. Sehingga terjadi ekspansi dari pasar ke perkampungan. Hal itu membuat dilakukannya penertiban. Pedagang pun dikembalikan ke dalam Pasar Pabean.
BACA JUGA:Gombloh dalam Memori Kota
BACA JUGA:Membaca Muhammadiyah dari Sejarah Ruang Kota
Banyak faktor yang membuat warga memutuskan untuk menjual rumahnya. Di antaranya disebabkan oleh warisan, kenyamanan, dan kebutuhan ekonomi.
Proses jual beli rumah sering kali tanpa melibatkan warga setempat, dalam hal ini adalah pengurus Rukun Tetangga dan Rukun Warga. Mereka sering kali hanya didampingi oleh ahli notaris.
Dorongan tersebut muncul karena kawasan Pabean merupakan kawasan bisnis. Membuat banyak pemilik rumah kemudian memutuskan untuk menjual rumahnya.
Kawasan bisnis yang ramai dengan aktivitas bongkar muat barang. Itu membuat pemilik rumah tidak nyaman.
BACA JUGA:Orkestrasi Dewan Pendidikan Surabaya, dari Wonosalam untuk Masa Depan Anak Kota
BACA JUGA:Lika-Liku Ruang Publik bagi Pelaku Budaya Kota Surabaya
Selain itu, jalan-jalan kecil juga sering kali berubah menjadi lapak jualan. Sehingga menyempitkan jalan kampung.