Kampungku Pasar, Pasarku Kampung

Rabu 21-10-2026,13:00 WIB
Oleh: Muhamad Rohman Obet*

BACA JUGA:Pertaruhan Nyali Terakhir Wali Kota Surabaya Menumpas Mafia Parkir Surabaya

Terdapat perbedaan mencolok terkait kegunaan rumah yang awalnya merupakan rumah toko (ruko) menjadi toko saja. 

Fenomena pergeseran rumah dari tempat tinggal menjadi gudang di Perkampungan Pabean tidak berdiri sendiri.

Ia mencerminkan mekanisme yang oleh Karl Marx disebut sebagai pergeseran komoditas dari nilai guna (use value) ke nilai tukar (exchange value).

Dari sesuatu yang dihargai karena kemampuannya memenuhi kebutuhan manusia, menjadi sesuatu yang dihargai semata karena dapat dipertukarkan di pasar.

BACA JUGA:Surabaya Melting Borders: Membayangkan Kepadatan dan Masa Depan Kota Raya

BACA JUGA:Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman

Proses jual-beli rumah yang kerap dilakukan tanpa melibatkan pengurus RT/RW adalah bukti konkret dari pergeseran tersebut.

Bahwa transaksi berlangsung sebagai murni transaksi pasar. Lepas dari ikatan sosial dan kelembagaan kampung yang semestinya menyertai perpindahan sebuah rumah.

Hakikat rumah dalam kehidupan manusia adalah sebagai pusat realisasi kehidupan. Tempat manusia berinteraksi dengan sesamanya dalam lingkup keluarga maupun masyarakat.

Dari segi fisik, rumah menjadi tempat tinggal. Berfungsi sebagai tempat perlindungan dari panas maupun hujan.

BACA JUGA:Sister City Surabaya-Varna untuk Masa Depan Kota Global

BACA JUGA:Kugadaikan Kotaku: Ketika Laut dan Hidup Dipertaruhkan

Rumah-rumah di perkampungan Pabean berubah dari kebutuhan dasar menjadi komoditas yang tunduk pada kepentingan pasar.

Rumah tidak lagi dipahami sebagai tempat tinggal. Tetapi sebagai aset ekonomi yang menghasilkan keuntungan.

Perkampungan Pabean harus berhadapan dengan kapitalisme pasar yang mempengaruhi kondisi sosial ekonomi. Yakni melalui kepemilikan rumah yang kuasai oleh pemodal yang menjadikannya sebagai gudang.

Kategori :