Kampungku Pasar, Pasarku Kampung

Rabu 21-10-2026,13:00 WIB
Oleh: Muhamad Rohman Obet*

Selain itu, kapitalisme pasar juga membentuk pola pikir, gaya hidup, serta perilaku individu warga yang ada di Perkampungan Pabean. 

Teori Marx mengkritisi konsep komodifikasi kapitalis yang mengutamakan keuntungan spekulatif daripada kebutuhan dasar manusia.

Transformasi perumahan dari kebutuhan dasar manusia (nilai penggunaan) menjadi komoditas spekulatif (nilai tukar) merupakan ciri khas ekonomi perkotaan kontemporer.

Secara historis, perumahan terutama dihargai karena kapasitasnya untuk menyediakan tempat berlindung, keamanan, dan lokasi bagi kehidupan sosial dan budaya.

Namun, selama beberapa dekade terakhir, perumahan semakin menjadi objek investasi, spekulasi, dan pembiayaan. Dengan implikasi mendalam terhadap keterjangkauan, ketidaksetaraan, dan stabilitas masyarakat.

Kapitalisme mengatur sendi-sendi kehidupan warga perkampungan Pabean. Mereka terpaksa menyesuaikan diri dengan kondisi kampungnya yang menjadi pasar.

Akibatnya, hubungan antarwarga mengalami penurunan kualitas. Karena interaksi yang semakin terbatas. Juga komunikasi yang kurang intensif seiring dengan berkurangnya jumlah penduduk.

Warga perkampungan Pabean mungkin tetap tinggal di kampung yang sama. Namun, secara emosional merasa jauh dan tidak memperoleh kenyaman sebagaimana fungsi ideal pemukiman. 

Dampaknya bukan hanya ekonomi. Melainkan juga eksistensial. Warga yang bertahan mengalami apa yang oleh Marx disebut sebagai alienasi. 

Meski dalam konteks Marx, istilah itu awalnya merujuk pada keterasingan buruh dari hasil kerjanya sendiri. Di perkampungan Pabean bentuknya bergeser menjadi keterasingan warga dari ruang hidupnya.

Mereka tetap tinggal di kampung yang sama. Tetapi kampung itu tidak lagi menjadi milik mereka secara sosial.

Ritme hidupnya kini diatur oleh jam operasional pasar. Bukan oleh musyawarah, hajatan, atau anak-anak yang bermain di gang.

Rumah yang mestinya menjadi pusat realisasi kehidupan berubah menjadi pulau-pulau kecil yang terjepit di antara gudang-gudang tak berpenghuni.

Warga yang bertahan merasa tinggal menghitung hari saja. Karena ke depan bisa jadi mereka juga ikut terhempas.

Warga yang tersisa melawan kondisi tersebut. Mereka menghidupkan perkampungannya dengan beberapa cara.

Di antaranya adalah tetap mempertahankan fasad rumah. Sehingga kelestarian bangunan-bangunan kunonya tetap terjaga. 

Kategori :