Jangan Timbang Harga Diri

Jumat 23-10-2026,15:54 WIB
Oleh: Muthmainnah*

”SEKARANG kok tambah gemuk?” Pertanyaan itu sering datang sebelum ”apa kabar?” Diucapkan sambil tersenyum, disambut tawa, lalu dianggap selesai. Padahal, seseorang mungkin membawanya pulang, memikirkannya menjelang tidur, dan mengingatnya lagi ketika berdiri di depan cermin.

Mulut yang mengucapkan sudah lupa. Orang yang mendengar belum tentu.

Dalam keseharian kita, tubuh orang lain sering menjadi bahan percakapan bersama. Saat reuni, bertamu, bahkan berkumpul bersama keluarga, selalu ada yang merasa berhak mengomentari ukuran badan. 

Kalau penerimanya keberatan, jawabannya sudah tersedia: ”cuma bercanda”. Begitu mudah kita meminta orang lain menguatkan hati. Begitu jarang kita meminta diri sendiri menjaga ucapan.

BACA JUGA:Gadis Kecil Penjual Kue Itu Ajarkan Arti Harga Diri

BACA JUGA:Polri, Reformasi Kelembagaan dan Harga Diri Institusi

Kebiasaan tersebut patut dipikirkan kembali. Sebab, ketika seseorang terus dinilai dari bentuk tubuhnya, yang dipertaruhkan adalah perasaan diterima dan dihargai. Penelitian Fan dan kolega dalam Journal of Eating Disorders (2026) memberikan bahan renungan. 

Penelitian yang juga melibatkan akademisi Universitas Airlangga itu menganalisis jawaban 7.787 orang dari Taiwan, Tiongkok, Hongkong, Indonesia, Turkiye, dan Malaysia. Para peneliti menguji alat ukur untuk mengetahui seberapa sering seseorang melihat atau mendengar sikap yang merendahkan orang karena berat badannya. 

Sumbernya beragam: media sosial, media tradisional, televisi dan film, keluarga, teman, pasangan, hingga orang asing. Artinya, seseorang tidak harus diejek langsung untuk berhadapan dengan pesan yang merendahkan tubuh. Melihat orang lain ditertawakan pun dapat mengajarkan pesan yang sama: tubuh tertentu dianggap kurang pantas dihargai.

Cermin dari Negara Tetangga

Dalam sampel penelitian itu, Indonesia dan Malaysia cenderung menunjukkan paparan stigma berat badan yang tinggi pada banyak sumber. Indonesia mencatat skor tertinggi pada kelompok pertanyaan tentang media tradisional. Malaysia menonjol pada media sosial, televisi dan film, keluarga, serta teman. 

Temuan Indonesia menjadi bahan evaluasi bagi media. Apakah tubuh besar masih terlalu sering dijadikan bahan lelucon? Apakah iklan membuat orang merasa harus malu dahulu sebelum membeli suatu produk? Apakah pesan kesehatan mengajak orang merawat diri atau justru membuat mereka merasa buruk tentang dirinya?

Dari Malaysia, kita memperoleh pengingat bahwa persoalan itu juga hidup dalam hubungan yang dekat. Tekanan untuk bertubuh langsing dapat datang dari orang yang disayangi dan dipercaya. Karena itu, perubahan perlu dimulai dari meja makan dan percakapan keluarga, selain dari layar.

Taiwan dan Hongkong memperlihatkan gambaran yang lebih beragam. Pada pertanyaan tentang anggapan di media sosial bahwa tubuh langsing lebih menarik, rata-rata skor keduanya lebih rendah daripada Indonesia. Namun, pada pertanyaan serupa yang bersumber dari pasangan, skor keduanya justru lebih tinggi daripada Indonesia.

Perbandingan itu menarik. Suatu wilayah dapat mencatat skor lebih rendah di satu lingkungan, tetapi lebih tinggi di lingkungan lain. Kita perlu mencari sumber persoalannya dengan teliti, alih-alih cepat memberikan cap bahwa masyarakat tertentu lebih ramah terhadap tubuh.

Kategori :