Turkiye memberikan pelajaran serupa. Pada pertanyaan tentang anggapan bahwa tubuh langsing lebih menarik di televisi dan film, skornya hampir sama dengan Indonesia. Sementara itu, pada pertanyaan tentang anggapan tersebut di lingkungan keluarga, skornya lebih rendah.
Pesannya jelas: persoalan yang muncul di layar dan di rumah dapat berbeda. Mengubah isi tayangan saja belum cukup jika percakapan keluarga masih melukai. Sebaliknya, rumah yang mendukung tetap perlu membantu anggotanya menghadapi tekanan dari luar.
Tiongkok mencatat skor paling rendah pada seluruh kelompok sumber stigma. Namun, kita perlu berhati-hati membacanya. Para peneliti menjelaskan bahwa budaya dapat memengaruhi cara orang memahami pertanyaan dan mengungkapkan pengalaman. Komentar juga mungkin disampaikan secara lebih tersirat.
Diam tidak selalu berarti nyaman.
Seluruh perbandingan tersebut menggambarkan responden penelitian, bukan seluruh penduduk masing-masing wilayah. Usia dan komposisi pesertanya berbeda. Penelitian itu pun menemukan bahwa sebagian pertanyaan dimaknai berbeda antarkultur.
Karena itu, hasilnya lebih berguna sebagai cermin untuk belajar daripada sebagai perlombaan menentukan masyarakat mana yang paling baik.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Penelitian itu tidak menguji keberhasilan program antistigma di Taiwan, Hongkong, Turkiye, atau wilayah lainnya. Karena itu, kita belum dapat menyebut salah satunya sebagai contoh praktik terbaik yang terbukti berhasil. Namun, temuannya memberikan arah tindakan yang masuk akal bagi Indonesia.
Pertama, perbaiki cara kita berbicara di rumah. Berhentilah menjadikan perubahan berat badan sebagai salam pembuka. Kita bisa menanyakan pekerjaan, kegiatan, atau kabar keluarga. Begitu banyak pintu percakapan yang dapat dibuka tanpa membuat seseorang malu.
Jika ingin membicarakan kesehatan orang terdekat, mintalah kesediaannya dan pilih suasana pribadi. Dengarkan sebelum memberikan nasihat. Perhatian akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan hormat.
Kedua, media dan pembuat konten perlu memperluas cara menampilkan manusia. Orang bertubuh besar mempunyai pekerjaan, kepandaian, keberanian, dan kisah cinta. Berikan ruang bagi cerita itu. Jangan terus memakai ukuran badannya sebagai jalan pintas untuk mengundang tawa.
Ketiga, sekolah dan kampus perlu mendengarkan pengalaman murid serta mahasiswa. Tanyakan di mana ejekan terjadi: di kelas, grup percakapan, pergaulan, atau kegiatan olahraga. Temuan lintas wilayah tadi menunjukkan pentingnya mengenali sumber masalah sebelum menentukan tindakan.
Kita juga perlu belajar menjadi saksi yang berani. Ketika seseorang diejek karena tubuhnya, percakapan dapat dihentikan dengan kalimat sederhana: ”sudah, tidak perlu mengomentari badannya.” Tidak harus marah untuk membela. Tidak harus berpidato untuk mengubah suasana.
Pada akhirnya, pelajaran dari penelitian lintas negara itu dekat sekali dengan kehidupan kita: penghormatan kepada manusia perlu hadir di banyak tempat sekaligus, dari rumah hingga ruang digital.
Besok, ketika bertemu seseorang yang tubuhnya berubah, cobalah menahan satu komentar dan menggantinya dengan satu pertanyaan yang lebih hangat. ”Apa kabar? Senang bisa bertemu lagi.” Biarkan timbangan mengukur berat badan. Jangan kita pakai untuk menakar harga diri. (*)
*) Muthmainnah adalah dosen Divisi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.