Kalaupun itu bergenre fantasi atau imajinatif serupa Lord of the Rings (J.R.R. Tolkien), Harry Potter (J.K. Rowling), Animal Farm (George Orwell) atau O (Eka Kurniawan), ia tidak pernah berangkat dari kehampaan.
Karya-karya hebat berawal dari pengalaman, emosi, mungkin kepedihan, atau kebabahagiaan. Ada kontemplasi atau perenungan yang menempanya. Ada kegelisahan yang ingin disampaikan.
Demikianlah agaknya substansi dari kata ”personal” Bong Joon-ho itu. Bahwa kemudian ia dibalut dengan imajinasi dan kemampuan mengolah kata, diksi percakapan atau dialog film, misalnya, itu hal lain meski bisa jadi terintegrasi. Intinya, ide adalah akar lompatan berpijak.
Gagasan utama dalam penulisan atau karya kreatif akan menyentuh jika bermula dari hal-hal yang sifatnya personal (tidak harus fenomena yang dialami sendiri, karena bisa jadi fenomena yang disentuh pancaindra).
Gagasan akan kehilangan marwah jika belum-belum sudah diserahkan kepada AI. Akibatnya, ia tidak lagi melangkah dari pengalaman personal, tetapi dari prompt kepada robot. (*)
*) Rio Febriannur Rachman adalah dosen Universitas Negeri Surabaya.