Everything Everywhere All at Once, Film Soal Feminisme Dibalut Kerumitan Multiverse

Everything Everywhere All at Once, Film Soal Feminisme Dibalut Kerumitan Multiverse

GAYA Michelle Yeoh saat menjadi perempuan super bermata tiga dalam Everything Everywhere All at Once di Netflix.-A24 via Entertainment Weekly-

HARIAN DISWAY- FILM yang mengusung nilai-nilai feminisme tidak harus dibuat oleh perempuan. Tidak harus dibuat dengan menyalahkan siapa pun atau apa pun. Dengan menonjolkan sisi positif dan kemampuan perempuan yang sesungguhnya, film itu sudah berbicara banyak.

Everything Everywhere All At Once (EEAAO), menurut saya, sangat berhasil menonjolkan nilai-nilai luhur gender (bahkan pria) dengan meminjam kerumitan multiverse yang sedang nge-tren. Daniel Kwan and Daniel Scheinert, penulis sekaligus sutradara, membungkus keseruan dan kerumitan dalam sebuah komedi yang kental dengan nuansa Asia. Khususnya keturunan Tionghoa.

Michelle Yeoh, yang diperintahkan menggunakan aksen Singapore kental, sementara Ke Huy Quan dengan aksen Hong Kong. Stephanie Hsu beraksen Amerika, mewakili generasi terkini yang menjadi native speaker karena lahir dan dibesarkan di Amerika. Sayangnya, James Hong terlewatkan, tidak mendapatkan detil yang apik.

KE HYU QUAN menampilkan akting ciamik sebagai tipikal suami inferior yang lembut dan penurut. Aksen Hongkong-nya layak dipuji. -A24 via Entertainment Weekly-

Tiga hal itu berperan penting mengembangkan cerita dan memaksa batasan komedi untuk tidak terjebak dalam stereotipe yang begitu-begitu saja. Alam pikir Evelyn Quan sebagai imigran dari Asia Tenggara yang cenderung sempit mengalami dentuman besar. Saat berinteraksi dengan Waymond, imigran dari benua lain.

Setelah dentuman itu selesai, lahirlah bintang kerdil yang kemudian mengalami Supernova. Yang menciptakan kontraksi - dilatasi - ekspansi gila-gilaan, melalui sosok Joy. Anak dari pernikahan Evelyn dan Waymond.

Muatan alam perempuan Asia Tenggara yang serba malu-malu dan cenderung mikul duwur mendem jero ditampilkan sempurna melalui naskah dan akting.

Saya terpesona oleh mimik Michelle Yeoh saat berganti baju dan make up ratusan kali yang dicuplik kemudian dirangkum dalam tampilan cepat. Terbayang betapa melelahkannya pembuatan film ini.

EEAAO mengejawantah sebagai film yang memberikan penghormatan mendalam kepada semua sosok ibu di Asia. Yang harus patuh total terhadap suami dan orang tua. Yang hampir-hampir tak punya hak suara sekalipun sekarang sudah 2022.

EEAAO tak mengajak kita untuk bergunjing tentang tetangga sebelah. Ia memberi ruang yang sangat lebar bagi semua pihak untuk mencari jalan keluar dalam problema sehari-hari. Ingatlah,  setiap keputusan dan tindakan selalu memunculkan akibat. Dan akibat harus ditanggung bersama.

EEAAO membuat saya terharu sekaligus merasa terhormat. Bahwa akhirnya ada yang memahami posisi ibu kandung saya. (Oleh: Wimpie, karyawan swasta)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: