Darah Seni Mengalir dari Kakek Canggah dan Nenek Buyut

Darah Seni Mengalir dari Kakek Canggah dan Nenek Buyut

Nama asli dosen karawitan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) ini adalah Ratna Mestikasari Putri. Namun populer dengan nama Ratna Tjokroaminoto. Dia memang keturunan Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto, sang pahlawan nasional. Berjiwa seni tinggi, Ratna mengajar dengan inovasi serta metode yang kreatif dan melebur.

 

TAMPILAN dia cenderung cuek. Outfit favoritnya adalah celana jeans sobek-sobek, serta kemeja dengan jaket ketat berwarna hitam. Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) memanggilnya Mom Ratna atau Mam rock ‘n roll. Itulah Ratna Tjokroaminoto, dosen prodi karawitan STKW.

Baik keseharian maupun ketika mengajar, dia selalu tampil apa adanya. Dengan begitu, dia bisa lebih dekat dengan para mahasiswa. ’’Seperti kawan akrab malahan. Biasa duduk bareng, ngobrol, ngopi,’’ tutur Ratna riang.

Banyak yang tidak tahu dia keturunan langsung H.O.S Tjokroaminoto. Meski dia jelas-jelas menyandang nama Tjokroaminoto di belakang namanya. Orang mengira, itu nama biasa. Dia adalah cicit Siti Oetari, istri pertama Presiden Soekarno.

’’Lha memang saya enggak pernah bilang ke semua orang (tentang garis keturunan, Red),’’ ucap Ratna. ’’Saya menunjukkan diri lewat karya musik. Nanti dengan sendirinya orang akan menyusuri latar belakang saya,’’ papar perempuan 34 tahun itu.

Ratna menjadi dosen STKW sejak 2013. Beberapa mata kuliah yang dia ampu, antara lain: Teori dan Praktik Musik Barat, Metodologi Penelitian dan Penciptaan Seni, Olah Vokal, Artpreneurship, Musik Kontemporer, dan masih banyak lagi. Metode mengajar dia membuat para mahasiswa tertarik.


BU DOSEN ROCK 'N ROLL Ratna (tengah) bersama mahasiswa anggota paduan suara setelah tampil di acara wisuda STKW Desember 2019. 

Untuk mata kuliah Teori dan Praktik Musik Kontemporer, semester depan telah dia ubah menjadi Teori dan Praktik Musik Urban. Alasannya terkait dengan perkembangan musik. Musik kontemporer dan urban, orientasinya hampir sama. Yakni musik kreatif. Konteks universalnya adalah entertainment.

’’Bedanya, musik kontemporer hanya dipahami dalam satu masa saja, dan tak bisa diulang. Berbeda dengan musik urban yang dapat eksis di berbagai masa,’’ dia menjelaskan.

Bagi Ratna, musik urban adalah sebuah upaya intervensi untuk revitalisasi seni tradisi dengan transformasi kekinian. ’’Bahasa mudahnya, menjadikannya pertunjukan populer. Atas alasan itu, saya ubah mata kuliahnya menjadi Teori dan Praktik Musik Urban,” katanya.

Saat mengajar, Ratna lebih banyak melakukan pendekatan demonstratif. Dia praktik langsung di depan mahasiswa. Lalu mereka diajak untuk membuat pementasan. Tak jarang, di waktu senggang, dia mengambil keyboard dan bermain elekton. Mahasiswa serta para dosen lain dia ajak menyanyi.

Dalam prodi karawitan, Ratna membantu mahasiswa berlatih karawitan serta olah vokal tradisional yang lebih banyak mengetengahkan ciri khas Jawa Timuran. Bedanya, ia melibatkan unsur-unsur teknologi dan penggunaan alat musik modern. Sehingga iramanya jadi lebih kaya. ’’Seni karawitan harus mendapat pengayaan dari unsur musik lain. Lebih variatif dan merangsang daya kreatif mahasiswa,” ujar sulung tiga bersaudara tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: